Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lamidi Bangun Gondola Rp 10 Juta, Selamatkan Warga Ngrayun Ponorogo yang Terisolir

Sugeng Dwi N. • Jumat, 20 Februari 2026 | 05:30 WIB
PAHLAWAN PERBATASAN: Lamidi bersama warga menarik gondola yang mengangkut tiga orang dan satu sepeda motor menyeberangi Sungai Jabak di Ngrayun. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO
PAHLAWAN PERBATASAN: Lamidi bersama warga menarik gondola yang mengangkut tiga orang dan satu sepeda motor menyeberangi Sungai Jabak di Ngrayun. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo - Sekuat tenaga Lamidi dan rekan-rekannya menarik tambang sepanjang 40 meter.

Perlahan, gondola yang mengangkut tiga orang dan satu sepeda motor bergerak menyeberangi Sungai Jabak dari ketinggian sekitar tujuh meter.

Jika tali terlepas atau tenaga habis, nyawa jadi taruhannya.

Sejak jembatan hanyut diterjang banjir awal Januari lalu, aktivitas menantang maut itu menjadi rutinitas warga.

Lamidi, petani di pegunungan selatan Ponorogo, sekitar 40 kilometer dari pusat kabupaten, menjadi penggerak pembangunan gondola.

Bukan proyek pemerintah, bukan pula bantuan donatur.

Gondola itu murni hasil patungan warga yang tak ingin hidup terisolasi.

“Jembatannya ambrol, arus Sungai Jabak ini deras sekali. Jadi warga tidak bisa melintas,” katanya.

Sebelumnya, warga membangun jembatan secara swadaya.

Sejak 2010, mereka rutin menyisihkan hasil panen porang.

Empat tahun kemudian, terkumpul Rp 300 juta dan berdirilah jembatan beton.

Sebelum itu, warga memanfaatkan jembatan anyaman bambu.

“Kami bangun sedikit demi sedikit. Semua murni dari warga,” ungkap Lamidi.

Namun, keterbatasan anggaran dan minim pendampingan teknis membuat konstruksi tak cukup kokoh.

Beberapa kali rusak diterjang banjir hingga akhirnya hanyut total awal Januari lalu.

Tak ada alat berat datang. Tak ada proyek darurat.

Pada 8 Januari, Lamidi mencetuskan ide gondola darurat.

Dana Rp 10 juta terkumpul dari patungan warga.

Tiga minggu kemudian, kotak besi 2x3 meter itu berubah menjadi gondola sederhana, dipasang sling baja dan tali pengaman.

“Biar aman, kami buat kotak besi yang bisa ditutup,” ujarnya.

Kini gondola menjadi satu-satunya penghubung Ponorogo–Trenggalek.

Anak sekolah, petani, hingga warga sakit menyeberang setiap hari.

Wilayah seberang masuk Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek—lebih dekat untuk urusan ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.

“Dana kami memang terbatas, tapi kami tidak tinggal diam demi anak-anak kami bisa sekolah dan orang sakit segera mendapat penanganan,” tutup Lamidi. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#jembatan hanyut Ponorogo #Desa Gedangan Ngrayun #perbatasan Ponorogo Trenggalek #gondola Sungai Jabak #ponorogo #Lamidi Ngrayun