Jawa Pos Radar Ponorogo – Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) berubah menjadi pasar ketupat dadakan menjelang lebaran kupat.
Puluhan pedagang berjejer di kawasan utara Pasar Legi Ponorogo, menjajakan ketupat dan janur yang diserbu pembeli.
Marmin, pedagang asal Ngebel, menyebut jualan ketupat menjadi agenda rutin setiap tahun. Bahkan, tahun ini penjualannya paling laris.
’’Sejak hari keempat setelah lebaran sudah mulai jualan, dari pagi sampai sore laris,’’ ujarnya.
Dalam tiga hari, sedikitnya 16 ribu ketupat berhasil terjual.
Harga ketupat tanpa isi dibanderol Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu, sementara janur 12 helai dijual Rp 10 ribu.
Menurutnya, banyak warga memilih ketupat siap isi karena lebih praktis.
’’Sebenarnya tidak susah membuat ketupat, tapi banyak yang pilih ketupat siap isi, nanti tinggal ditambah beras dan dimasak,’’ jelasnya.
Tradisi lebaran ketupat atau kupatan masih lestari di masyarakat Jawa.
Biasanya digelar pada hari ketujuh bulan Syawal setelah menjalankan puasa sunah enam hari.
Kupatan menjadi momen mempererat silaturahmi melalui kenduri dan berbagi makanan.
Selain itu, tradisi ini juga sarat makna filosofis.
Kupat dimaknai sebagai ngaku lepat atau pengakuan kesalahan.
Anyaman janur melambangkan kerumitan kesalahan manusia.
Sementara isi ketupat yang putih menjadi simbol kembali suci setelah saling memaafkan.
Fitria Rahmawati, warga Desa Pondok, Babadan, mengaku sengaja membeli ketupat untuk dibagikan saat kenduri di musala.
’’Biasanya tujuh hari setelah lebaran ada genduren. Ketupat dibagikan ke tetangga, lauknya sate,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto