Jawa Pos Radar Ponorogo – Indeks Perlindungan Anak (IPA) Ponorogo tertinggal dari rata-rata Jawa Timur.
Kondisi ini disorot Menteri PPPA RI Arifatul Choiri Fauzi saat kunjungan kerja di Ponorogo, Sabtu (28/3).
IPA Ponorogo tercatat 73,30. Lebih rendah dibanding rata-rata Jawa Timur yang mencapai 75,62.
Menurut Arifatul, rendahnya capaian tersebut dipengaruhi pola asuh yang belum optimal serta penggunaan media sosial (medsos) yang kurang terkontrol di kalangan anak.
’’Banyak kasus kekerasan antar anak berawal dari pola asuh yang tidak tepat. Selain itu, penggunaan media sosial tanpa pengawasan juga memicu berbagai persoalan,’’ ujarnya saat berdialog dengan siswa di Sekolah Rakyat Ponorogo.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah pusat mulai membatasi akses media sosial bagi anak.
Per 28 Maret, anak di bawah usia 18 tahun tidak diperbolehkan mengakses medsos secara bebas tanpa pengawasan orang tua.
Arifatul juga menekankan pentingnya keberanian korban untuk melapor jika mengalami perundungan maupun kekerasan seksual.
’’Kalau menjadi korban, jangan diam. Harus berani bicara dan melapor agar bisa melindungi diri sendiri dan teman-temannya,’’ tegasnya.
Dia menilai, perlindungan anak tidak bisa dilakukan secara parsial.
Sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah menjadi kunci untuk mencegah kekerasan terhadap anak.
’’Tidak bisa sendiri harus kerja bersama-sama,’’ terangnya.
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita memastikan pemkab akan memperkuat upaya perlindungan perempuan dan anak.
Langkah tersebut dilakukan dengan menghadirkan ruang aman hingga tingkat desa.
’’Kami terus berkomitmen meningkatkan perlindungan perempuan dan anak sebagai bagian dari pembangunan daerah,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto