Jawa Pos Radar Ponorogo – Rentetan bencana tanah longsor melanda Ponorogo di awal April.
Dalam kurun lima hari, tercatat 25 kejadian longsor di berbagai wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat, lonjakan kejadian paling tinggi terjadi pada Minggu (5/4) dengan 21 laporan dalam satu hari.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun menyebut Kecamatan Pulung menjadi wilayah paling terdampak.
Total 13 kejadian longsor terjadi di wilayah tersebut.
Baca Juga: Longsor Tutup Total Jalur Kare–Dagangan Madiun, Akses Lumpuh
Rinciannya sembilan di Desa Banaran, tiga di Desa Wagir Kidul, dan satu di Desa Bekiring.
Disusul Kecamatan Ngebel dengan enam kejadian, Kecamatan Ngrayun empat kejadian, serta Kecamatan Pudak dua kejadian.
‘’Kondisi ini selaras dengan rilis BMKG yang memprediksi cuaca ekstrem terjadi tanggal 1-7 April ini,’’ kata Masun.
Dampak paling parah terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung. Tiga rumah warga terisolasi akibat akses jalan terputus karena longsor.
Bahkan, PVMBG merekomendasikan warga di zona rawan untuk segera mengungsi.
Baca Juga: 3.444 Siswa SMP di Madiun Jalani TKA Hari Ini, Ujian Online Diawasi CCTV
‘’Beberapa tahun terakhir sudah pernah longsor, direkomendasikan untuk pindah. Tapi warga belum mau dan ini longsor lagi,’’ jelasnya.
Masun menambahkan, tidak semua longsor berdampak pada permukiman. Sebagian terjadi di area persawahan dan perbukitan.
Meski periode cuaca ekstrem telah berlalu, BPBD tetap mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.
‘’Kerugian masih kami hitung. Kami berharap masyarakat yang tinggal di zona merah berhati-hati potensi longsor susulan. Segera mengungsi kalau hujan deras berdurasi lama,’’ pintanya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto