PONOROGO – Kenaikan harga aspal imbas terganggunya perdagangan minyak bumi akibat konflik di Timur Tengah berdampak pada proyek infrastruktur di Ponorogo.
Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) setempat kini mengkaji ulang volume perbaikan jalan.
Sebagai turunan komoditas fosil, harga aspal mengalami lonjakan signifikan hingga mendekati 20 persen.
Kondisi ini memaksa pemerintah daerah menyesuaikan perencanaan proyek.
Kepala DPUPKP Ponorogo Jamus Kunto Purnomo mengungkapkan, data terbaru dari Pertamina Trading & Service menunjukkan kenaikan harga pada berbagai jenis aspal.
Aspal curah dari refinery unit IV Cilacap misalnya, naik dari Rp 9.400 per kilogram menjadi Rp 11.565 per kilogram pada Maret lalu.
Sementara aspal kemasan drum eks Gresik meningkat dari Rp 11.600 menjadi Rp 13.600 per kilogram.
’’Harga terbaru ini yang kami tunggu, karena menjadi dasar kami untuk memulai perbaikan jalan,’’ ujarnya.
Lonjakan harga tersebut berdampak langsung terhadap proyek perbaikan jalan pemerintah.
Selain harus menghitung ulang rencana anggaran biaya (RAB), volume pekerjaan juga terpaksa dikurangi.
Pengurangan berlaku untuk proyek yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) maupun dana alokasi umum (DAU).
’’Kami koordinasi lagi dengan Kementerian PU, karena ini tentu mempengaruhi target. Misalnya yang semula bisa sepuluh kilometer hanya menjadi sembilan kilometer,’’ jelasnya.
Meski terjadi penyesuaian volume, DPUPKP memastikan kualitas pekerjaan tidak akan diturunkan.
Rencananya, pekerjaan perbaikan jalan akan dimulai pada Mei mendatang dengan total anggaran sekitar Rp 103 miliar.
Fokus pekerjaan berupa overlay ulang jalan rusak di sejumlah titik.
’’Kalau penyesuaian harga ini nanti selesai, segera kami ajukan ke tim lelang. Bulan depan atau paling lambat akhir bulan, sudah mulai pekerjaan semua,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto