Jawa Pos Radar Ponorogo – Gagahnya dadak merak yang menari di halaman rumah Tri Heni Astuti di Desa Sawoo menyimpan cerita berbeda.
Bukan tenaga pria yang menggerakkannya, melainkan kekuatan perempuan yang perlahan mematahkan stigma lama dalam kesenian reog.
Melalui Grup Reog Sardulo Nareswari, perempuan mengambil alih seluruh peran—dari pembarong, warok, Klono Sewandono, bujang ganong, jatilan, hingga pengrawit.
Mereka menjadi satu-satunya kelompok reog di Ponorogo yang seluruh pemainnya perempuan.
Heni, sapaan Tri Heni Astuti, mengatakan kelompok tersebut berdiri sejak 2015.
Ide awalnya sederhana, berangkat dari kegiatan ibu-ibu PKK yang ingin ikut melestarikan budaya daerah.
“Berawal dari kumpulan PKK, lalu muncul ide membuat grup reog yang seluruh pemainnya perempuan,” ujarnya.
Perjalanan tidak selalu mulus. Di awal pembentukan, jumlah anggota sangat terbatas.
Sebagian memilih mundur karena rasa malu, kurang percaya diri, hingga larangan keluarga.
Pandangan bahwa reog identik dengan kekuatan laki-laki juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kami tetap bertahan karena ingin menjaga budaya dan menunjukkan perempuan juga mampu,” kenangnya.
Penampilan perdana di balai desa menjadi titik balik. Kepercayaan diri mulai tumbuh, minat masyarakat meningkat, dan jumlah anggota terus bertambah.
Kini, sekitar 50 perempuan tergabung dalam kelompok tersebut. Mulai dari ibu rumah tangga hingga pelajar, semuanya dilibatkan dalam latihan rutin.
Mereka juga belajar langsung dari seniman berpengalaman untuk meningkatkan kualitas pertunjukan.
“Awalnya banyak yang meragukan, apakah perempuan bisa tampilkan reog, bisa angkat dadak merak,” katanya.
Keraguan itu perlahan terjawab di atas panggung.
Bagi Suprihatin, salah satu pembarong, tantangan terbesar adalah mengangkat dadak merak yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram.
Dibutuhkan kekuatan fisik, keseimbangan, dan konsentrasi tinggi agar gerakan tetap selaras dengan iringan gamelan.
“Tenaga perempuan tentu berbeda, jadi mengangkat dadak merak menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Di tengah perannya sebagai ibu rumah tangga, Suprihatin tetap menyempatkan diri berlatih.
Baginya, keterlibatan perempuan dalam reog bukan sekadar seni, tetapi juga kebanggaan.
“Kami bangga bisa ikut melestarikan budaya daerah, karena tidak semua perempuan bisa menjadi pembarong,” katanya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto