Jawa Pos Radar Ponorogo – Harga LPG non-subsidi jenis bright gas melonjak tajam dalam sebulan terakhir.
Kenaikan hingga puluhan ribu rupiah per tabung mulai menekan konsumsi, terutama dari pelaku usaha.
Pemilik pangkalan LPG di Jalan MT Haryono, Zaenal Abidin, menyebut kenaikan terjadi dua kali, yakni 1 April dan 18 April.
Di tingkat agen, bright gas 5,5 kilogram naik dari Rp95 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung.
Sementara bright gas 12 kilogram melonjak dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu.
“Betul naik, dalam beberapa hari terakhir harga 5,5 dan 12 kilogram kembali naik,” ujarnya.
Lonjakan harga tersebut mulai berdampak pada penurunan pembelian. Konsumen, khususnya rumah makan, memilih mengurangi konsumsi.
“Sebelumnya bisa jual sekitar 50 tabung per bulan. Sekarang ada yang batal beli setelah tahu harga naik,” jelasnya.
Ia menduga kenaikan dipicu faktor global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, kondisi berbeda terjadi pada LPG subsidi 3 kilogram. Penjualannya relatif stabil karena harga masih terjangkau.
Pemilik pangkalan lain, Sri Wahyuni, menyebut pelanggan mayoritas berasal dari rumah tangga dan pelaku usaha.
“Konsumen banyak yang tanya karena kenaikannya terasa,” katanya.
Ia mengaku rata-rata menjual lebih dari 40 tabung LPG non-subsidi setiap bulan. Namun, tren saat ini menunjukkan mulai ada penyesuaian konsumsi.
“Pangkalan hanya mengikuti harga dari distributor dan kebijakan pusat,” pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto