Jawa Pos Radar Ponorogo – Jembatan penghubung Desa Tempuran dan Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, putus diterjang banjir.
Akibatnya, puluhan siswa harus memutar hingga lima kilometer untuk berangkat dan pulang sekolah.
Jembatan sepanjang 15 meter dengan lebar 4 meter itu roboh sejak 15 April lalu.
Infrastruktur yang dibangun pada 1980 tersebut selama ini menjadi akses vital warga.
Kepala Desa Tempuran Tri Wahyono menyebut jembatan tersebut tidak hanya menghubungkan dua desa, tetapi juga menunjang aktivitas ekonomi dan pendidikan.
“Penghubung Desa Sriti dan Tempuran, jadi vital,” ujarnya, Rabu (22/4).
Selama ini, jembatan digunakan warga, termasuk pelajar yang menuju SDN 1 Sriti dan SMPN 4 Sawoo. Pasca putus, warga terpaksa memutar cukup jauh melalui jalur alternatif.
Sebagian petani bahkan memilih melintasi area perkebunan untuk memangkas jarak menuju jembatan terdekat.
“Rusak kena banjir kemarin, kemungkinan fondasi tergerus sehingga ambrol,” jelasnya.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun menyebut kerusakan dipicu derasnya debit sungai saat hujan lebat pada 14 April.
Arus sungai menggerus fondasi hingga membuat konstruksi utama jembatan ambrol.
Saat ini, BPBD masih melakukan kaji cepat dan pendataan dampak. Opsi perbaikan tengah disiapkan, termasuk kemungkinan menggunakan belanja tidak terduga (BTT).
“Kami kaji, apakah bisa diusulkan perbaikan menggunakan BTT atau opsi lainnya,” terangnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto