Jawa Pos Radar Ponorogo – Ponorogo memasuki musim panen raya.
Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) memperkirakan lebih dari 6.000 hektare lahan padi siap dipanen sepanjang bulan ini.
Kabar baiknya, panen bertepatan dengan harga gabah yang tinggi.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo, menyebut sebaran lahan siap panen berada di sejumlah kecamatan.
Di antaranya Sukorejo, Sampung, Kauman, Badegan, Babadan, Jambon, hingga Jenangan.
“Banyak yang sudah mulai panen, khususnya di wilayah barat dan utara,” ujarnya.
Baca Juga: Kemarau Ekstrem Mengancam, Petani Ngawi Diminta Percepat Tanam Padi
Minimnya serangan hama serta rendahnya angka gagal panen membuat produktivitas tetap terjaga.
Rata-rata hasil panen diperkirakan mencapai 6,5 hingga 8 ton per hektare.
Di sisi pemasaran, Dispertahankan memastikan gabah petani terserap maksimal.
Pengusaha penggilingan mampu menyerap hingga tiga ton per hari.
Harga gabah pun berada di level Rp7.500 per kilogram, lebih tinggi dari harga acuan pemerintah Rp6.500.
“Bulog juga ikut menyerap. Momentum ini bisa dibilang petani diuntungkan harga,” jelasnya.
Baca Juga: Dukung Sektor Pertanian, Pemkab Magetan Salurkan Bantuan Alsintan dan Gelar Festival Pamelo 2026
Terkait potensi kemarau panjang pada musim tanam berikutnya, Dispertahankan menilai petani sudah cukup siap.
Selain penggunaan varietas unggul, sistem pengairan mandiri juga telah dimiliki sebagian besar petani.
Dukungan infrastruktur seperti Waduk Bendo, Telaga Ngebel, serta Dam Sungkur dinilai mampu mencukupi kebutuhan irigasi saat kemarau.
Program listrik masuk sawah dan sistem pompanisasi juga membantu menjaga ketersediaan air.
“Program listrik masuk sawah dan pengairan dalam cukup membantu saat menghadapi kemarau,” tandas Budi. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto