Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe di Ponorogo Pangkas Ukuran

Sugeng Dwi N. • Selasa, 5 Mei 2026 | 06:00 WIB
Perajin tempe mengurangi ukuran produksi akibat kenaikan harga kedelai impor dan bahan pendukung. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO
Perajin tempe mengurangi ukuran produksi akibat kenaikan harga kedelai impor dan bahan pendukung. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan perajin tahu dan tempe di Ponorogo.

Dalam dua bulan terakhir, harga bahan baku merangkak naik dan memaksa pelaku usaha menyiasati produksi agar tetap bertahan.

Salah satu perajin tempe, Hadi Prayitno, mengaku harga kedelai kini naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 10.500 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada bahan pendukung seperti plastik yang melonjak dari Rp 30.000 menjadi Rp 50.000 per rol.

“Bahan baku semakin mahal, tapi pembeli nanti lari kalau harganya dinaikkan. Jadi ukurannya dikurangi,” ujarnya, kemarin (4/5).

Baca Juga: Harga Plastik Naik Gila-gilaan, UMKM Keripik Tempe Madiun Tercekik

Untuk menekan kerugian, Hadi mengurangi takaran produksi. Jika sebelumnya satu bungkus tempe berisi 380 gram kedelai, kini hanya 350 gram.

“Sekarang jualan agak susah, mungkin karena kondisi ekonomi. Mau nggak mau harus putar otak agar usaha tetap jalan,” katanya.

Dalam sehari, Hadi mampu memproduksi hingga seribu bungkus tempe.

Usaha yang telah dirintis selama lima tahun itu mengandalkan kedelai impor, terutama dari Amerika, yang dinilai memiliki kualitas lebih baik dan lebih mudah diproses dibanding kedelai lokal.

“Kalau kedelai lokal, banyak ukuran kecil yang lolos gilingan jadi utuh dan rasanya bisa berubah,” jelasnya.

Baca Juga: Harga Minyak Goreng di Madiun Naik, Dipicu Kenaikan Biaya Plastik

Kondisi ini membuat perajin berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga.

Pasalnya, tempe menjadi salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi masyarakat luas.

“Tempe sudah seperti makanan wajib. Kalau kondisinya begini, kami juga bingung menjualnya,” tandas Hadi. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#tempe ponorogo #umkm pangan #harga kedelai #kedelai impor #perajin tempe