Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lahan Kedelai Ponorogo Menyusut 29 Ribu Hektare dalam 9 Tahun

Sugeng Dwi N. • Kamis, 7 Mei 2026 | 14:00 WIB
Perajin tahu dan tempe di Ponorogo lebih memilih kedelai impor karena kualitas dinilai lebih stabil dibanding kedelai lokal. SUGENG DWI N/JAWA POS RADAR PONOROGO
Perajin tahu dan tempe di Ponorogo lebih memilih kedelai impor karena kualitas dinilai lebih stabil dibanding kedelai lokal. SUGENG DWI N/JAWA POS RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Luas lahan kedelai di Kabupaten Ponorogo terus menyusut drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Petani mulai meninggalkan komoditas tersebut dan beralih menanam padi maupun jagung yang dinilai lebih menjanjikan.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Ponorogo, Tri Budi, mengatakan penyusutan lahan kedelai mencapai 29.649 hektare dalam kurun sembilan tahun terakhir.

Pada 2017, luas tanam kedelai di Ponorogo masih sekitar 30 ribu hektare.

Kini tersisa sekitar 351 hektare yang tersebar di Kecamatan Siman, Mlarak, Jetis, dan Sawoo.

“Dulu kedelai jadi pilihan setelah padi karena keterbatasan air. Sekarang irigasi mendukung, petani kembali tanam padi atau beralih ke jagung,” jelas Tri, Kamis (7/5).

Menurut dia, perubahan preferensi petani dipicu faktor produktivitas dan kepastian pasar.

Dalam satu hektare, kedelai rata-rata hanya menghasilkan sekitar 1,4 ton.

Sementara padi dan jagung mampu menghasilkan hingga tujuh ton per hektare dengan pasar yang lebih stabil.

“Jagung lebih pasti dari sisi pasar dan hasilnya lebih tinggi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap industri tahu dan tempe di Ponorogo.

Mayoritas perajin kini lebih memilih menggunakan kedelai impor dibanding kedelai lokal.

Selain kualitas yang lebih seragam, kedelai impor dinilai lebih mudah diolah untuk proses produksi.

Padahal, menurut Tri, tanaman kedelai sebenarnya cukup efisien dari sisi budidaya karena membutuhkan air lebih sedikit dengan masa tanam relatif singkat, sekitar 70–80 hari.

Pemerintah daerah pun telah menggagas sejumlah program bantuan untuk mendorong petani kembali menanam kedelai.

Namun, pelaksanaannya belum optimal karena terkendala syarat minimal luasan lahan lima hektare per kelompok tani.

“Banyak kelompok tidak memenuhi syarat, sehingga bantuan tidak terserap maksimal,” katanya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#kedelai Ponorogo #petani kedelai #Dispertahankan Ponorogo #harga kedelai #padi