Jawa Pos Radar Ponorogo – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru di Ponorogo mendesak dibutuhkan.
Kondisi TPA Mrican saat ini dinilai memprihatinkan karena kapasitas overload hingga sempat longsor saat musim penghujan.
Dampaknya, sampah menumpuk di sejumlah tempat pembuangan sementara (TPS).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ponorogo, Sapto Jatmiko, mengatakan pembangunan TPA baru ditarget mulai beroperasi paling lambat awal 2027.
Saat ini, proyek memasuki tahapan pemasangan tapal batas, tegakan, hingga penyusunan detail engineering design (DED).
Pemerintah menargetkan proyek sudah masuk tahap lelang pada Juli mendatang.
“Targetnya akhir tahun atau paling lambat awal 2027 sudah beroperasi,” kata Sapto.
TPA baru tersebut dibangun di atas lahan seluas 9,5 hektare atau sekitar enam kali lebih luas dibanding TPA lama yang hanya memiliki luas 1,5 hektare.
Menurut Sapto, TPA baru akan menggunakan sistem sanitary landfill yang dinilai lebih modern dan ramah lingkungan dibanding metode lama.
“Sistem sanitary landfill menjadi standar baru pengelolaan sampah karena mampu mengendalikan potensi pencemaran melalui lapisan kedap air, pengolahan air lindi, serta pengendalian gas metana dari timbunan sampah,” ungkapnya.
Dia tak menampik kondisi TPA Mrican yang menggunung sempat menjadi perhatian serius Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Bahkan, operasional TPA sempat mendapat sanksi penutupan beberapa waktu lalu.
Karena itu, selain membangun TPA baru, pemkab juga fokus menekan volume sampah sejak dari TPS agar jumlah sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang signifikan.
“Target kami pengolahan sampah cukup di TPS saja. Jadi nanti yang masuk TPA sudah berkurang banyak,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto