Jawa Pos Radar Ponorogo – Ancaman longsor di Ponorogo belum mereda.
Hasil asesmen terbaru Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Desa Banaran, Kecamatan Pulung dan Desa Talun, Kecamatan Ngebel masuk zona merah rawan longsor.
Warga yang tinggal di area rawan bahkan diminta segera mengungsi saat hujan deras mengguyur.
Sekretaris BPBD Ponorogo Ismoyo mengatakan, kondisi paling mengkhawatirkan berada di Dusun Banaran, Kecamatan Pulung.
Hasil kajian PVMBG menunjukkan tanah di kawasan tersebut masih labil dan berpotensi mengalami pergerakan lebih besar dibanding longsor sebelumnya pada 6 April lalu.
“PVMBG meminta retakan tanah segera ditutup agar tidak menjadi jalur masuk air,” ujarnya, kemarin (14/5).
Menurut dia, air hujan yang masuk ke rekahan tanah dapat meningkatkan tekanan dan memicu longsor susulan.
Karena itu, aliran air diminta dialihkan dari area retakan untuk mengurangi risiko pergerakan tanah.
BPBD juga meminta warga yang tinggal di sekitar mahkota longsor meningkatkan kewaspadaan.
Sedikitnya enam rumah berada tepat di sisi kanan dan kiri area rawan longsor.
“Warga diminta mengungsi ketika hujan deras,” katanya.
Sementara itu, ancaman serupa juga mengintai Dusun Sedayu, Desa Talun, Kecamatan Ngebel.
Di lokasi tersebut, bongkahan batu besar masih menggantung di atas tebing longsoran dan hanya tertahan pepohonan.
BPBD khawatir batu tersebut sewaktu-waktu jatuh dan menghantam permukiman warga di bawahnya.
“Ada tiga rumah di area rawan terdampak di Desa Talun,” jelas Ismoyo. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto