Jawa Pos Radar Ponorogo – Dugaan kasus asusila yang melibatkan oknum pengasuh di Ponpes Tahfidzul Quran Raden Wijaya, Desa Pulosari, Kecamatan Jambon, mendapat perhatian serius dari Pemkab Ponorogo.
Jumat (22/5), Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi para santri pascakasus mencuat.
Bunda Rita –sapaan Lisdyarita– mengatakan pihaknya ingin memastikan para santri tetap mendapatkan perlindungan dan pendampingan, terutama bagi korban yang mengalami trauma dan ketakutan.
Menurut dia, sebagian besar santri sudah dijemput dan dibawa pulang oleh orang tua masing-masing.
Namun, masih ada sejumlah santri yang bertahan di lingkungan pondok.
“Kami ingin cek langsung, sudah banyak yang dibawa pulang orang tuanya masing-masing. Tapi beberapa masih ada santri di sini dan kami kasih solusi untuk masalah pendidikan,” katanya.
Pemkab Ponorogo juga menyiapkan langkah antisipasi agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Salah satunya dengan membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang melibatkan lintas sektor dan pondok pesantren di Ponorogo.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat pengawasan sekaligus menjaga citra Ponorogo sebagai Kota Santri.
“Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang, kami akan kumpulkan pondok-pondok,” ungkapnya.
Sementara itu, psikolog pendamping Risma Agustin mengatakan pemeriksaan tahap awal telah dilakukan terhadap 11 korban.
Hasil asesmen menunjukkan sebagian korban mengalami trauma, terutama korban yang masih berusia di bawah umur.
Menurut dia, para korban saat ini ditempatkan di lokasi yang dinilai aman dan tidak lagi berada di lingkungan pondok pesantren.
“Untuk korban kami treatment dan tempatkan di area aman, bukan di pondok. Penanganan lebih ekstra tentu pendampingan ke anak usia di bawah umur,” jelasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto