PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo - Grebeg Suro dan Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP) 2026 kembali menjadi perhatian nasional.
Mengusung tema “Tradisi Luhur, Jati Diri Bangsa”, tahun ini Festival Nasional Reyog Ponorogo juga kembali masuk jajaran 10 besar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno menilai Reyog dan Grebeg Suro bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi simbol karakter masyarakat Ponorogo yang sarat nilai gotong royong, keberanian, spiritualitas dan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Baca Juga: Casio Edifice EFV-160D-7AV: Jam Tangan Pria Stylish dengan Nuansa Sporty Modern
Hingga, keberadaannya mengakar di masyarakat sampai lapisan terbawah. ‘’Modern boleh, maju harus, tetapi akar budaya jangan sampai hilang,’’ ujar Kang Wi.
Dia mengatakan, pengakuan UNESCO terhadap Reyog Ponorogo membuat tanggung jawab daerah semakin besar untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya tersebut.
Karena itu, Grebeg Suro dinilai tidak lagi hanya menjadi agenda tahunan, tetapi ruang untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Ponorogo. Pun, capaian FNRP yang kembali masuk KEN juga dianggap menjadi prestasi membanggakan bagi Ponorogo.
Baca Juga: Disemprit Kemenpan-RB, Pemkab Ponorogo Siapkan Lokasi Baru MPP
‘’Ini menunjukkan Ponorogo sekarang tidak hanya dikenal sebagai daerah asal Reyog, tetapi sudah menjadi salah satu pusat event budaya nasional,’’ katanya.
DPRD Ponorogo pun mendorong agar Grebeg Suro dan FNRP dijadikan agenda strategis daerah untuk memperkuat city branding Ponorogo sebagai kota budaya dan tujuan wisata nasional.
Artinya pemerintah daerah wajib menjadikan event budaya tidak hanya dari sisi pertunjukan, tetapi juga dampak ekonomi, daya tarik wisata hingga kualitas manajemen penyelenggaraan. ‘’Semua harus merasakan dampak positif dari event ini, tidak hanya satu dua pihak tapi hingga UMKM,’’ pungkasnya. (gen/par/kid)
Editor : Nur Wachid