Jawa Pos Radar Ponorogo – Kesenian Reog Ponorogo kini tak hanya menjadi kebanggaan budaya daerah.
Prestasi di bidang seni tradisional tersebut juga berpotensi membuka jalan bagi pelajar Ponorogo untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama Universitas Brawijaya (UB) membuka peluang bagi siswa berprestasi di bidang reog untuk memperoleh rekomendasi saat mendaftar ke perguruan tinggi.
Peluang tersebut disampaikan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita saat meninjau karantina latihan Grup Reog Manggala Wiyata SMAN 3 Ponorogo yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2026.
Dalam kesempatan itu, para siswa mendapat pendampingan langsung dari Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya.
"Kalau kalian punya prestasi, Bunda nanti akan tanda tangan untuk rekomendasinya," kata Lisdyarita yang akrab disapa Bunda Rita, Minggu (31/5).
Menurut dia, peluang tersebut harus menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan budaya asli Ponorogo sekaligus meningkatkan prestasi di bidang seni.
Bunda Rita menilai posisi Reog Ponorogo saat ini semakin kuat setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.
Pengakuan dunia tersebut turut meningkatkan perhatian berbagai pihak terhadap kesenian khas Bumi Reog, termasuk kalangan perguruan tinggi.
"Jadikan motivasi untuk nguri-uri budaya asli daerah sekaligus meningkatkan prestasi di bidang seni. Menggeluti kesenian Reog Ponorogo bukan hanya aktivitas seni, juga menjadi bekal masa depan bagi pelajar," ujarnya.
Pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya Denny Widhiyanuriyawan mengatakan, kerja sama antara kampus dan Pemkab Ponorogo tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan festival atau perlombaan semata.
Lebih dari itu, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya regenerasi seniman reog sekaligus menjaga keberlanjutan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.
Menurut Denny, pelajar yang memiliki kemampuan, dedikasi, dan rekam jejak prestasi di bidang reog berpeluang memperoleh rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya.
"Talenta muda dari Ponorogo tetap dibutuhkan. Karena itu pembinaan terus dilakukan," katanya.
Kerja sama antara Universitas Brawijaya dan Pemkab Ponorogo sendiri telah berjalan sejak Juni 2025.
Selain memberikan pendampingan latihan bagi peserta festival, kampus juga membuka ruang pengembangan bagi siswa berprestasi melalui jalur akademik maupun kesenian.
Denny menegaskan, pelestarian Reog Ponorogo membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
"Pelestarian reog perlu kolaborasi bersama, mulai pemerintah, sekolah, kampus sampai pelaku seni," jelasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto