Jawa Pos Radar Ponorogo - Tahta juara bertahan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) tahun ini dipastikan kosong.
Reog Brawijaya Universitas Brawijaya (UB), pemegang Piala Bergilir Presiden sekaligus penyaji terbaik tahun lalu, memutuskan absen pada FNRP XXXI yang menjadi rangkaian Grebeg Suro 2026.
Absennya salah satu kekuatan terbesar dalam dunia reog modern itu diprediksi membuat persaingan perebutan gelar juara berlangsung lebih terbuka dan sengit.
Pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya Denny Widhiyanuriyawan mengatakan, keputusan tidak mengikuti FNRP tahun ini bukan karena berkurangnya komitmen kampus terhadap pelestarian Reog Ponorogo.
Menurut dia, jadwal festival bertepatan dengan pelaksanaan ujian akhir semester sehingga tim tidak memungkinkan untuk tampil pada ajang tahun ini.
“Namun tahun ini Reog Brawijaya absen dalam FNRP XXXI. Sebab bertepatan dengan ujian akhir semester,” katanya, kemarin (8/6).
Meski tidak mengirimkan peserta, UB tetap berkomitmen mendukung pelestarian reog melalui berbagai kegiatan pembinaan di sekolah-sekolah maupun komunitas seni.
“Kami tetap hadir dalam dukungan seperti pembinaan di sekolah-sekolah,” tambah Denny.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengakui absennya Reog Brawijaya akan mengubah peta persaingan FNRP tahun ini.
Meski demikian, sejumlah grup unggulan yang tahun lalu masuk jajaran 10 penyaji terbaik dipastikan kembali tampil.
Karena itu, kualitas kompetisi diyakini tetap terjaga.
“Ini bagian dari upaya menjaga keberlangsungan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia,” ujarnya.
Pada FNRP XXX tahun lalu, posisi empat besar ditempati Reog Brawijaya UB sebagai juara, disusul Gajah Manggolo SMAN 1 Ponorogo, Taruno Suryo SMA Muhammadiyah Ponorogo, serta Reog Watoe Dakon UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Tahun ini, Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI akan berlangsung pada 11–14 Juni dengan jumlah peserta mencapai 32 grup reog dari berbagai daerah.
Sementara Festival Reog Remaja (FRR) XXII yang digelar lebih awal pada 7–11 Juni diikuti 23 peserta.
Dengan absennya juara bertahan, peluang tampil sebagai penyaji terbaik dan membawa pulang Piala Bergilir Presiden kini terbuka lebih lebar bagi seluruh peserta.
“Festival ini tidak hanya jadi hiburan, tapi sarana kaderisasi menjaga keberlanjutan seni adiluhung Reog Ponorogo,” ungkap Judha. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto