Jawa Pos Radar Ponorogo – Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki babak baru perjalanan sejarahnya.
Tepat di usia satu abad, pesantren modern yang telah melahirkan ribuan tokoh nasional dan internasional itu mulai merumuskan arah pengembangan untuk menghadapi tantangan abad kedua.
Ribuan kiai, mubaligh, dan alumni Gontor dari berbagai daerah berkumpul dalam Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah dan Muballigh Alumni Gontor yang digelar di BPPM Darussalam Gontor, Sabtu–Minggu (20–21/6).
Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus perumusan strategi agar pesantren tetap relevan menghadapi perubahan zaman, mulai perkembangan teknologi, globalisasi, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks.
Wakil Menteri Agama RI R Muhammad Syafi'i mengatakan Gontor telah menjelma menjadi salah satu representasi pesantren Indonesia yang dikenal luas hingga tingkat internasional.
Menurutnya, kontribusi Gontor tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
“Gontor dan Indonesia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Gontor mengemban amanah besar sebagai pesantren kepercayaan umat,” ujarnya, Sabtu (20/6).
Dia menilai tantangan yang dihadapi pesantren pada masa mendatang semakin berat.
Selain harus mampu beradaptasi dengan perkembangan global, pesantren juga dituntut menghadapi berbagai stigma dan narasi negatif yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan berbasis pondok.
“Gontor tidak lagi hanya untuk Indonesia, tetapi harus mendunia,” katanya.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyebut keberhasilan Gontor tercermin dari kiprah alumninya yang tersebar di berbagai bidang, mulai pendidikan, dakwah, dunia usaha, hingga lembaga negara.
Menurut alumni Gontor angkatan 1978 itu, perkembangan Gontor membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi kekuatan pendidikan modern yang berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.
“Gontor mampu berkembang dari satu pesantren menjadi kekuatan pendidikan modern. Ini bukti Indonesia memiliki peluang besar mengisi peradaban dunia melalui pesantren,” tuturnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa Gontor sejak awal dibangun bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal, melainkan membentuk karakter dan melahirkan generasi yang siap mengabdi kepada umat dan bangsa.
Menurutnya, nilai-nilai pembentukan karakter harus tetap menjadi fondasi utama Gontor memasuki abad kedua.
“Gontor bukan melayani konsumen, tetapi menawarkan sistem dan pembentukan karakter. Yang akan datang harus lebih baik dari hari ini,” tegasnya. (gen/her)
Editor : Hengky Ristanto