Jawa Pos Radar Ponorogo – Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) senilai Rp 2,5 miliar pada proyek Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) mulai berdampak terhadap rencana pengembangan kawasan wisata tersebut.
Pemkab Ponorogo kini memilih menahan sejumlah rencana pembangunan baru sambil menuntaskan rekomendasi hasil pemeriksaan auditor terhadap proyek strategis yang berada di Kecamatan Sampung itu.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengakui MRMP menjadi salah satu fokus evaluasi dalam hasil pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2025.
“Permasalahannya banyak sekali di monumen ini, termasuk beberapa perizinan juga,” ujarnya, kemarin (24/6).
Proyek MRMP yang menelan anggaran sekitar Rp 76,6 miliar tersebut mendapatkan sejumlah catatan dari BPK.
Temuan meliputi kekurangan volume pekerjaan, kualitas material, hingga persoalan administrasi perizinan.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus lebih berhati-hati dalam menentukan arah pengembangan kawasan wisata yang digadang-gadang menjadi ikon baru Ponorogo tersebut.
Bahkan, berdasarkan rekomendasi auditor, sementara waktu tidak diperkenankan ada pembangunan permanen baru hingga seluruh persoalan yang menjadi temuan dapat diselesaikan.
Padahal, tahun ini Pemkab Ponorogo telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 6 miliar untuk pembangunan fasilitas penunjang berupa musala dan toilet.
Namun realisasi program tersebut kini masih dikaji ulang agar tidak bertentangan dengan rekomendasi hasil pemeriksaan.
“Sementara waktu memang tidak boleh ada bangunan permanen. Solusinya mungkin menggunakan kontainer atau fasilitas portable,” terang Bunda Rita, sapaan akrab Lisdyarita.
Menurut dia, seluruh rencana pengembangan kawasan MRMP akan dibahas kembali bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk menentukan langkah yang paling tepat.
Pemkab ingin memastikan setiap kebijakan yang diambil tetap sesuai aturan serta tidak menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaan proyek tersebut.
“Karena anggarannya sudah disiapkan tetapi belum direalisasikan, nanti akan kami bahas lagi yang paling tepat seperti apa,” katanya. (gen/her)
Editor : Hengky Ristanto