Jawa Pos Radar Madiun – Peternak ayam petelur di Kabupaten Ponorogo menghadapi tekanan berat.
Dalam dua pekan terakhir, harga telur di tingkat kandang anjlok hingga Rp18 ribu per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat peternak terpaksa menjual hasil produksinya dengan harga di bawah biaya yang diharapkan agar stok telur tidak menumpuk di kandang.
Ahmad Sarbini, salah seorang peternak ayam petelur di Ponorogo, mengatakan penurunan harga dipicu melemahnya permintaan pasar.
Memasuki bulan Sura atau Muharam, aktivitas hajatan masyarakat berkurang sehingga kebutuhan telur ikut menurun.
Di saat yang sama, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berhenti sementara selama masa libur sekolah.
Kondisi itu menyebabkan serapan telur dari peternak ikut menurun.
"Orang hajatan tidak ada, MBG juga libur. Akibatnya produksi surplus karena kebutuhan pasar turun," ujarnya, kemarin (30/6).
Tekanan terhadap peternak semakin besar karena harga pakan masih tinggi.
Ketimpangan antara biaya produksi dan harga jual membuat margin usaha terus menyusut, bahkan banyak peternak memilih menjual rugi dibanding menyimpan telur terlalu lama.
"Yang penting telur keluar dari kandang. Tidak bisa ditahan terlalu lama karena kualitasnya akan turun," kata peternak asal Desa Mlarak, Kecamatan Mlarak, tersebut.
Sarbini berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk membantu menstabilkan harga telur di tingkat peternak.
Salah satu usulan yang disampaikan yakni menggelar bazar telur di setiap kecamatan agar produksi peternak lebih cepat terserap pasar.
"Paling tidak bisa mengurangi penumpukan stok di kandang sekaligus membantu peternak bertahan sampai permintaan kembali normal," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto