Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tari Keling Ponorogo, Kesenian Langka yang Diduga Lebih Tua dari Reog

Sugeng Dwi N. • Senin, 6 Juli 2026 | 22:00 WIB
TRADISIONAL: Pelestari Tari Keling menghitamkan tubuh menggunakan campuran arang dan minyak kelapa sebelum tampil di Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Ponorogo.
TRADISIONAL: Pelestari Tari Keling menghitamkan tubuh menggunakan campuran arang dan minyak kelapa sebelum tampil di Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Jawa Pos Radar Ponorogo - Di tengah kemasyhuran Reog Ponorogo, masih tersimpan sebuah warisan budaya yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

Namanya Tari Keling, kesenian tradisional yang hingga kini hanya bertahan di Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Pertunjukan ini bukan sekadar tarian.

Di balik tubuh para penari yang dihitamkan menggunakan arang dan minyak kelapa, tersimpan kisah kerajaan, ritual leluhur, hingga jejak sejarah yang diyakini sebagian warga telah ada jauh sebelum Reog berkembang.

Saat pertunjukan dimulai, belasan laki-laki bertubuh hitam legam berjalan layaknya prajurit perang sambil membawa tombak, pedang, dan gada.

Mereka mengenakan kostum dari dedaunan yang berpadu dengan irama kentongan dan kendang.

Di belakang barisan prajurit, para penari perempuan berkostum karung goni menari mengikuti alunan musik tradisional.

Pemandangan tersebut menjadi ciri khas Tari Keling yang hingga kini hanya diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dusun Mojo.

Sesepuh Dusun Mojo, Wiyoto, mengatakan masyarakat setempat meyakini Tari Keling telah ada sebelum Reog Ponorogo berkembang.

Meski belum memiliki bukti ilmiah yang memastikan hal tersebut, sejumlah referensi menyebut Tari Keling sudah dikenal sejak 1922.

Salah satunya penelitian Kustantina Mutiaraningrum dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berjudul Koreografi Tari Keling Gunojoyo di Dukuh Mojo, Singgahan, Pulung, Ponorogo.

Penelitian itu menyebut kesenian ini sempat vakum akibat kondisi ekonomi masyarakat yang sangat sulit sebelum kembali dihidupkan pada 1942.

"Tarian ini sudah ada sejak nenek moyang kami. Di dusun ini bahkan diyakini lebih dulu ada daripada Reog," kata Wiyoto, Senin (6/7).

Versi cerita yang paling dikenal masyarakat menyebut Tari Keling berkisah tentang Raja Bagaspati dari Kerajaan Tambas Keling.

Raja tersebut menculik putri kembar dari Kerajaan Ngerum setelah lamarannya ditolak.

Kedua putri kemudian berhasil diselamatkan oleh Joko Tawang dari Padepokan Waringin Putih.

Peristiwa kemenangan itu dirayakan melalui arak-arakan yang kemudian dipercaya menjadi cikal bakal pertunjukan Tari Keling.

Namun, masyarakat juga mengenal versi lain mengenai asal-usul kesenian tersebut.

Menurut Wiyoto, pada awal abad ke-20 Dusun Mojo pernah dilanda paceklik panjang akibat kekeringan.

Saat itu Tari Keling dipentaskan dalam prosesi menuju sumber mata air Kucur sebagai doa dan ungkapan syukur agar masyarakat terhindar dari bencana.

"Tari Keling ini memang hanya anak-anak Dusun Mojo. Dulu pernah ada daerah lain mencoba membuat kesenian seperti ini, tapi hanya sekali tampil lalu berhenti," ungkapnya.

Salah satu keunikan Tari Keling adalah seluruh penari laki-lakinya dihitamkan menggunakan campuran bubuk arang dan minyak kelapa.

Dalam satu pementasan terdapat 22 penari, yang terdiri atas 12 prajurit Keling, 2 pujangga, 6 abdi kinasih yang tampil menyerupai jathil dan 2 emban sepuh.

Setiap tokoh memiliki peran masing-masing dalam membangun cerita yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Wiyoto mengaku proses menghitamkan tubuh penari kerap menimbulkan kesalahpahaman saat tampil di luar daerah.

"Kalau tampil di luar daerah sering harus menjelaskan dulu karena proses mewarnai badan dianggap mengotori tempat," kata Wiyoto.

Pemerhati budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuarti, menilai hasil kajian awal menunjukkan Tari Keling kemungkinan berasal dari masa transisi Mataram Kuno menuju Mataram Islam.

Apabila temuan tersebut dapat dibuktikan melalui penelitian lanjutan, Tari Keling berpotensi menjadi salah satu warisan budaya tertua di Ponorogo sekaligus memperkaya destinasi wisata budaya daerah.

Meski demikian, pengembangannya tetap harus mempertahankan nilai-nilai ritual yang diwariskan oleh para leluhur.

"Kalau dikembangkan sebagai tari pertunjukan, saya yakin tari Keling bisa menjadi ikon baru sebagaimana Topeng Ireng di Jawa Tengah," pungkasnya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#kesenian tradisional #budaya ponorogo #tari keling #ponorogo #wisata budaya