Jawa Pos Radar Ponorogo - Ponorogo kembali menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).
Selama 40 hari ke depan, sebanyak 117 mahasiswa akan tinggal di sejumlah desa untuk mendampingi masyarakat mengembangkan potensi usaha mikro, sektor pertanian, hingga pemberdayaan ekonomi desa.
Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) itu menjadi kelanjutan kerja sama IPB dengan Pemkab Ponorogo yang selama ini telah menghasilkan berbagai inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Sebanyak 117 mahasiswa ditempatkan di 15 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pulung, Ngrayun dan Pudak.
Selama masa pengabdian, mahasiswa akan menjalankan berbagai program pendampingan sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing desa.
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Prof. Slamet Budijanto, mengatakan Ponorogo kembali dipilih sebagai lokasi KKNT karena memiliki potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berkembang di berbagai sektor.
Salah satu hasil nyata dari pendampingan sebelumnya adalah inovasi teknologi pengemasan sate Ponorogo yang mampu memperpanjang masa simpan produk hingga satu tahun.
"Kalau peluang ini bisa dikembangkan, bukan tidak mungkin sate Ponorogo dapat dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji di Arab Saudi," ujarnya saat pemberangkatan mahasiswa di Pendapa Kabupaten Ponorogo, kemarin (6/7).
Selain mengembangkan inovasi di bidang pangan dan pertanian, mahasiswa juga diberi tugas membantu menyelesaikan berbagai persoalan di desa melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Prof. Slamet menegaskan masyarakat harus menjadi pelaku utama pembangunan sehingga mahasiswa tidak hanya menjalankan program sesaat.
"Masyarakat harus menjadi subjek pembangunan. Mahasiswa harus hadir untuk memberdayakan, bukan sekadar datang lalu pulang," tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menilai kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan IPB telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, inovasi pengemasan sate Ponorogo menjadi contoh bagaimana hasil penelitian mahasiswa dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal.
"Teknologi yang dibawa mahasiswa IPB bukan hanya berhenti saat KKN berlangsung. Salah satunya pengemasan sate Ponorogo yang sekarang lebih awet sehingga berpeluang dipasarkan lebih luas," katanya. (gen/her)
Editor : Hengky Ristanto