Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena turunnya ratusan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) ke kawasan Pasar Ngebel, Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, memicu perhatian serius dari otoritas lingkungan.
BBKSDA Jawa Timur menegaskan bahwa serbuan kawanan primata tersebut bukan disebabkan oleh rusaknya habitat asli mereka, melainkan siklus tahunan akibat kemarau panjang.
Kasi BKSDA Wilayah II BBKSDA Jatim Gatot Kuncoro Edy menjelaskan, selama musim kemarau, ketersediaan pakan alami di kawasan hutan lereng Gunung Wilis menyusut drastis.
Kondisi inilah yang memaksa koloni monyet turun gunung menuju permukiman dan pasar demi mengais makanan.
"Ini murni fenomena musiman. Bukannya pakan di hutan habis total, tetapi saat kemarau pasokan buah-buahan dan sumber pakan alami berkurang secara signifikan. Makanya mereka bermigrasi sementara ke bawah," ujar Gatot, Sabtu (18/7).
Meski demikian, BBKSDA menyoroti perilaku masyarakat sekitar yang justru memperkeruh keadaan.
Kebiasaan warga dan wisatawan yang kerap memberi makan dinilai membuat kawanan monyet mengalami perubahan perilaku.
Satwa-satwa liar tersebut kini mulai mengidentifikasi kawasan pasar sebagai sumber makanan utama mereka.
Guna memutus rantai ketergantungan ini, BBKSDA telah menerjunkan personel untuk mengedukasi warga dan pedagang pasar agar menyetop pemberian umpan dalam bentuk apa pun.
"Jika terus-menerus diberi makan, insting liar mereka akan tumpul dan mereka akan terus bergantung pada manusia. Hal ini justru memicu konflik jangka panjang," tegas Gatot.
Hingga saat ini, pihak BBKSDA memang belum menerima laporan adanya serangan fisik dari kawanan monyet terhadap warga.
Kendati demikian, masyarakat diminta tetap menjaga jarak aman.
Sebagai satwa liar, Macaca fascicularis tetap menyimpan potensi bahaya tinggi, terutama jika merasa terancam, terprovokasi, atau dipancing untuk mendekat.
"Kami minta masyarakat menahan diri. Jangan didekati, jangan diprovokasi, dan yang paling penting, stop memberi makanan," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto