Jawa Pos Radar Madiun - Menjadi seorang kapolres bukanlah perjalanan singkat.
Bagi AKBP Andin Wisnu Sudibyo, jabatan sebagai Kapolres Ponorogo merupakan buah dari perjalanan panjang selama dua dekade mengabdi di institusi kepolisian.
Sebelum dipercaya memimpin wilayah hukum Polres Ponorogo, perwira kelahiran Nganjuk itu pernah menjalani tugas di daerah terpencil Belitung Timur.
Di tempat itulah ia belajar tentang kesederhanaan, tanggung jawab, dan arti sebuah pengabdian.
AKBP Andin mengaku tidak pernah membayangkan bakal dipercaya memimpin Polres Ponorogo.
Bahkan, sebelum dilantik pada Desember 2024, ia belum banyak mengenal wilayah berjuluk Bumi Reog tersebut.
Alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 2005 itu mengatakan, penugasan di Ponorogo menjadi pengalaman baru dalam perjalanan kariernya.
''Jangankan bercita-cita ke Ponorogo, main ke sini saja belum pernah,'' ujarnya sembari tertawa.
Pria asal Nganjuk itu tumbuh dari keluarga sederhana.
Sejak kecil, ia mengaku telah dibentuk dengan nilai disiplin dan tanggung jawab yang menjadi bekal dalam perjalanan hidupnya.
Setelah lulus Akpol, Andin mendapat penempatan di Polda Bangka Belitung.
Tugas pertamanya bukan di kota besar, melainkan sebagai kapolsek di Kecamatan Dendang, wilayah terpencil di Belitung Timur.
Saat itu, kehidupan di daerah tersebut jauh berbeda dengan perkotaan.
Fasilitas terbatas menjadi tantangan yang harus dijalani bersama sang istri yang berasal dari Semarang.
''Warungnya cuma jual mi instan dengan variasi telur. Dari situ kami belajar hidup sederhana,'' kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting yang membentuk karakter Andin dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
Setelah menjalani tugas di Bangka Belitung, perjalanan karier Andin berlanjut ke Kalimantan Timur.
Berbagai jabatan pernah ia emban, mulai dari kasatreskrim, kapolsek, kabagops, dan Wakapolres Berau.
Selepas mengikuti pendidikan Sespimen, Andin kemudian mendapat tugas di Divisi Propam Polri.
Ia juga pernah dipercaya menjadi ajudan salah satu calon presiden selama tujuh bulan.
Baginya, setiap penugasan memiliki tantangan dan tanggung jawab tersendiri.
Di balik perjalanan karier tersebut, terdapat banyak pengorbanan yang harus dijalani.
Selama sekitar 20 tahun berdinas, Andin mengaku hampir tidak pernah menikmati masa cuti secara penuh.
Bahkan, ia pernah meninggalkan istrinya saat sedang menonton bioskop karena mendapat panggilan tugas.
''Kalau sudah panggilan negara, keluarga harus mengerti,'' katanya.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting yang membuatnya mampu menjalani berbagai penugasan dengan baik.
Lebih dari satu tahun memimpin Polres Ponorogo, Andin tetap memegang prinsip yang sama seperti ketika pertama kali menjabat sebagai kapolsek di daerah terpencil.
Menurutnya, seorang pejabat harus mampu memberikan manfaat di mana pun ditempatkan.
Jabatan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab untuk memberikan pengabdian.
''Jangan pernah hadir tanpa peran. Di mana pun bertugas, keberadaan kita harus memberi manfaat. Jangan sampai hanya jadi pupuk bawang,'' tegasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto