Jawa Pos Radar Madiun – Riuh cipratan air dari kolam lele menjadi bagian dari proses belajar siswa tunanetra di SLB A Aisyiyah Ponorogo.
Melalui sentuhan dan pendengaran, mereka mengenali aktivitas ikan sekaligus mempelajari keterampilan budidaya sebagai bekal berwirausaha setelah lulus sekolah.
Program tersebut dipadukan dengan budidaya tanaman hortikultura dalam sebuah kegiatan bertajuk Sinergi Lele dan Hortikultura Inklusif (SI-LEHATI).
Seluruh area praktik dirancang ramah bagi penyandang tunanetra, mulai jalur khusus hingga penanda huruf braille pada setiap media tanam.
Kepala SLB A Aisyiyah Ponorogo Armei Purwaningsih mengatakan, program vokasi itu dikembangkan sebagai upaya memperluas peluang kerja bagi lulusan tunanetra yang selama ini masih terbatas.
"Program vokasi ini lahir dari kenyataan bahwa lulusan tunanetra masih memiliki pilihan pekerjaan yang terbatas," ujarnya, Senin (27/7).
Menurut Armei, proses pembelajaran tidak berhenti saat masa panen.
Ikan lele dan hasil hortikultura dimanfaatkan sebagai media praktik lanjutan agar siswa memahami proses menjalankan usaha secara utuh.
Mereka belajar menghitung biaya produksi, mencatat pemasukan, hingga memasarkan hasil panen kepada warga sekitar dan wali murid.
"Kami bukan hanya ajarkan cara memelihara ikan, tapi bagaimana sebuah usaha dijalankan dari awal sampai produknya laku," ungkapnya.
Bagi sekolah, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen.
Yang lebih penting adalah tumbuhnya karakter mandiri, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan rasa percaya diri para siswa saat nantinya hidup di tengah masyarakat.
"Keterbatasan penglihatan diganti dengan keterampilan yang kelak menjadi bekal mencari penghidupan setelah meninggalkan bangku sekolah," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto