Jawa Pos Radar Madiun – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Ponorogo.
Ratusan warga di daerah rawan kekeringan mulai mengalami krisis air bersih dan bergantung pada bantuan dropping air dari BPBD Ponorogo.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo Masun mengatakan, bantuan air bersih telah lebih dulu disalurkan ke SMAN 1 Jenangan.
Sekolah tersebut hampir setiap tahun mengajukan permohonan bantuan karena pasokan air dari sumur tidak mampu memenuhi kebutuhan ratusan siswa saat musim kemarau.
"Sudah kami kirim satu kali minggu lalu, memang tidak terlalu intens karena kebutuhannya untuk sekolah terbatas, walaupun setiap tahun mengajukan batuan ke kami," kata Masun, Rabu (29/7).
Memasuki puncak musim kemarau, kekeringan mulai meluas ke permukiman warga.
Sebanyak 153 jiwa di dua rukun tetangga (RT) di Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, telah mengajukan permohonan bantuan air bersih.
Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan yang rutin mengalami krisis air setiap musim kemarau.
"Kami pastikan dulu penampungan airnya siap sehingga saat dropping dilakukan bisa langsung dimanfaatkan masyarakat," terangnya.
BPBD Ponorogo telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan sejak 1 Juli 2026 dan berlaku selama 90 hari.
Penetapan status tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, BPBD terus memantau wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan.
"Sejumlah potensi daerah kekeringan masih kami pantau, khususnya yang langganan mendapatkan bantuan air bersih setiap tahun," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto