Jawa Pos Radar Madiun – BPBD Ponorogo mengkaji peningkatan status kebencanaan dari siaga menjadi tanggap darurat menyusul meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Langkah tersebut dipertimbangkan setelah sejumlah titik kebakaran muncul di berbagai wilayah sejak pertengahan Juli.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo Masun mengatakan, evaluasi dilakukan karena intensitas kebakaran terus meningkat dan berpotensi meluas seiring kondisi cuaca kering yang masih berlangsung.
"Status siaga sudah kami tetapkan. Sekarang sedang kami kaji apakah perlu dinaikkan menjadi tanggap darurat karena potensi kekeringan semakin luas dan ancaman karhutla juga masih tinggi," katanya.
Menurut Masun, pola kemunculan titik api tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Kebakaran pertama tercatat terjadi di kawasan Gunung Gombak pada 11–13 Juli, kemudian merambat ke sejumlah wilayah seperti Desa Tatung, Kecamatan Sukosari, Sampung, Badegan, Sambit, hingga Kecamatan Jambon.
BPBD juga meningkatkan kewaspadaan di Kecamatan Sawoo dan Slahung yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan kebakaran hutan saat musim kemarau.
"Kalau melihat pengalaman setiap tahun, dua wilayah Sawoo dan Slahung itu juga rawan. Karena itu kami meningkatkan kewaspadaan memang sampai saat ini belum ada laporan kebakaran," ujarnya.
Masun menilai sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia.
Kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar akibat pembakaran terbuka maupun puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan hutan maupun lahan kering.
Menurutnya, langkah pencegahan tetap menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko meluasnya kebakaran selama musim kemarau.
"Silahkan segera melapor ke kami bila menemukan tanda-tanda kebakaran hutan, agar cepat tertangani," pesannya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto