Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Dusun Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, Ponorogo.
Sebanyak 153 jiwa kini bergantung pada bantuan dropping air bersih dari BPBD Ponorogo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, dropping perdana dilakukan Rabu (29/7) lalu.
Selanjutnya, distribusi air bersih akan dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan masyarakat.
"Setelah kami lakukan assessment, di lokasi memang sumber air sudah berkurang signifikan sehingga kami lakukan dropping air bersih," ujarnya, Minggu (2/8).
Menurut Masun, Dusun Bungur menjadi prioritas penanganan karena merupakan wilayah langganan kekeringan.
Kondisi geografis menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan sumber air tanah.
Berbeda dengan wilayah perbukitan lain seperti Desa Duri dan Wates, Kecamatan Slahung, yang masih memiliki mata air.
BPBD juga mengacu pada prakiraan BMKG yang memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September.
Bahkan, durasi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibanding rata-rata dalam dua dekade terakhir.
Musim hujan diprediksi baru datang pada akhir Oktober hingga awal November.
"Memasuki Juli ini kami semakin yakin kemarau sudah berlangsung. Karena itu status siaga kami tetapkan mulai 1 Juli sampai akhir September," katanya.
Selain mendistribusikan air bersih, BPBD menyiapkan tandon penampungan serta mendata kebutuhan jeriken warga agar distribusi selama musim kemarau lebih efektif.
Permintaan bantuan air bersih juga datang dari SMAN 1 Jenangan saat menggelar kegiatan yang diikuti sekitar 300 peserta pada 23 Juli lalu.
"Untuk SMA Jenangan memang langganan saat kemarau karena untuk keperluan sekolah," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto