Jawa Pos Radar Madiun – Deru mesin, aroma aspal, dan kerasnya persaingan di lintasan sudah menjadi bagian perjalanan Yulia Putri Riana Febiola.
Perempuan yang karib disapa Putriola itu mulai menggeber motor balap sejak usia 15 tahun.
Sempat tak mendapat restu orang tua, kini dia justru menyimpan mimpi lebih besar: memiliki tim balap dan bengkel sendiri.
Kecintaan Putriola terhadap sepeda motor tumbuh sejak kecil.
Perempuan 25 tahun itu mengaku memang menyukai aktivitas yang memacu adrenalin dan penuh tantangan.
Ketertarikan tersebut akhirnya membawanya mengikuti sekolah balap pada 2016.
Dari sana, Putriola kemudian bergabung dengan RC Team 69 Ponorogo dan mulai serius mengasah kemampuannya di lintasan.
’’Saya dari kecil memang suka motor. Kalau sesuatu yang menantang, saya lebih suka,’’ ujarnya, Minggu (9/8).
Jalan Putriola menjadi pembalap tidak langsung mulus. Keputusannya turun ke lintasan sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya, Hartanti dan Margianto.
Restu baru datang setelah Putriola mampu membuktikan bahwa pilihannya bukan sekadar kesenangan sesaat.
Pada balapan pertamanya, dia langsung merebut podium ketiga.
Prestasi itu menjadi titik balik. Latihan kemudian menjadi rutinitasnya.
Bukan hanya mengasah teknik mengendalikan motor di lintasan, Putriola juga menempa fisik demi menjaga stamina selama balapan.
Berbagai kejuaraan di Jawa Timur pernah dijajalnya. Mulai Madiun, Ponorogo, Magetan, Blitar, hingga Pacitan.
Teranyar, Putriola kembali naik podium dalam ajang JRS di Ponorogo pada Juni lalu.
Bersama Benggala Jabon Family dan Star Travel, dia berhasil mengamankan posisi ketiga.
Bagi Putriola, menjadi pembalap tidak cukup hanya bermodal keberanian.
Konsentrasi, perhitungan, dan kemampuan mengambil keputusan dalam hitungan detik justru menjadi modal penting saat berada di lintasan.
’’Harus punya nyali, tetapi juga harus main otak,’’ katanya.
Risiko jatuh dari motor pun sudah beberapa kali dialaminya. Beruntung, berbagai insiden tersebut belum pernah membuatnya mengalami cedera serius.
Justru kesalahan saat start menjadi salah satu tantangan yang kerap menghantuinya.
Konsentrasi yang buyar bisa membuat pembalap melakukan jump start dan merusak strategi yang sudah disiapkan.
Kini, intensitas Putriola turun ke lintasan mulai berkurang. Kesibukan bekerja membuatnya harus lebih selektif memilih kejuaraan.
Sejak awal 2025, Putriola bekerja sebagai promotor Apple di Maju Hardware Ponorogo.
Karena itu, dia lebih banyak mengikuti kejuaraan yang berlangsung di Ponorogo maupun daerah sekitar.
Namun, berkurangnya frekuensi balapan tidak memadamkan kecintaannya terhadap dunia otomotif.
Jika kelak tak lagi intens berada di atas motor, Putriola ingin mengambil peran di balik layar dan melahirkan pembalap-pembalap baru.
’’Saya ingin jadi bos balap dan punya bengkel sendiri,’’ ujarnya.
Pengalaman bertahun-tahun menghadapi kerasnya lintasan juga ingin dia jadikan pelecut bagi anak muda, khususnya perempuan, agar tidak takut menekuni bidang yang mereka sukai.
’’Semangat mencapai cita-cita. Semoga cita-cita itu bisa menjadi profesi yang menghasilkan,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto