Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kekeringan di Ponorogo meluas.
Sedikitnya 30 kepala keluarga (KK) di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, kini menghadapi krisis air bersih setelah sumur mengering dan pasokan PDAM berhenti mengalir.
Kesulitan mendapatkan air bersih sudah dirasakan warga sekitar sebulan terakhir.
Kondisinya semakin berat setelah jaringan PDAM yang selama ini menjadi salah satu tumpuan kebutuhan sehari-hari tidak lagi mengalir.
Soirah, 65, warga setempat, mengatakan pasokan PDAM sebelumnya masih mengalir meski tidak setiap hari.
Namun, debit air terus menyusut sebelum akhirnya berhenti sama sekali.
’’Awalnya air PDAM masih mengalir meski tidak setiap hari. Namun, debitnya terus mengecil hingga akhirnya berhenti total,’’ kata Soirah, Senin (17/8).
Kondisi tersebut memaksa warga mencari sumber air alternatif.
Sejumlah wadah penampungan bahkan sudah ditempatkan di pinggir jalan untuk menampung bantuan air bersih apabila distribusi dilakukan.
Rida Asmawati, 45, mengungkapkan bahwa sebelumnya air PDAM masih mengalir sekitar dua hari sekali. Namun, dalam tiga hari terakhir, air tak lagi menetes.
Sumur yang masih menyimpan air pun tidak sepenuhnya dapat diandalkan.
Kondisi air yang keruh membuat warga khawatir memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga.
Untuk memenuhi kebutuhan air minum, sebagian warga terpaksa membeli air galon.
Bahkan, air galon juga digunakan untuk memasak hingga mandi ketika tidak ada sumber air lain.
Warga yang membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak memilih meminta kepada tetangga atau mengambilnya dari desa lain.
’’Ini sudah sekitar satu bulan kesulitan air. Kalau untuk mandi dan memasak terpaksa beli air galon. Kalau butuh lebih banyak, biasanya minta ke tetangga atau mengambil air ke desa sebelah,’’ ujar Rida.
Warga berharap distribusi bantuan air bersih segera menjangkau Dusun Dungus.
Mereka juga meminta pasokan PDAM dapat kembali normal agar kebutuhan dasar selama musim kemarau terpenuhi.
’’Kami berharap pemerintah bisa membantu dan PDAM kembali mengalir dengan lancar,’’ kata Rida. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto