Jawa Pos Radar Madiun – Limbah sabut kelapa tak lagi sekadar menjadi tumpukan sisa bagi pemuda Pilang Lor, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Ponorogo. Berbekal teknologi tepat guna, material tersebut mulai diolah menjadi cocopeat dan cocofiber yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang kegiatan produktif berbasis ekonomi sirkular.
Inovasi itu dikembangkan melalui program Pemberdayaan Karang Taruna Pilang Lor Desa Tulung melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Berbasis Ekonomi Sirkular oleh tim Universitas PGRI Madiun. Program berlangsung selama delapan bulan dengan melibatkan pemuda Karang Taruna Pilang Lor.
Tim pengabdian diketuai Ade Trisnawati bersama dosen Dyan Hatining Ayu Sudarni dan Metik Asmike serta melibatkan dua mahasiswa.
Tak sekadar mengajarkan cara mengolah limbah, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan pemuda sekaligus memperkuat tata kelola organisasi Karang Taruna agar mampu menjalankan kegiatan produktif secara berkelanjutan.
Salah satu intervensi utama dilakukan melalui penerapan teknologi tepat guna berupa mesin pengurai dan mesin ayakan sabut kelapa.
"Hasil praktik menunjukkan teknologi tersebut mampu mempercepat proses pengolahan. Sebanyak 50 kilogram sabut kelapa dapat diproses dalam waktu sekitar 30 menit," ujar Ade, sapaan akrab Ade Trisnawati.
Lebih lanjut Ade menambahkan dari jumlah bahan baku tersebut dihasilkan sekitar 10 kilogram cocopeat dan 14 kilogram cocofiber.
Kemampuan pemuda mengoperasikan teknologi juga menunjukkan perkembangan. Sekitar 80 persen peserta pelatihantelah mampu mengoperasikan mesin secara mandiri setelah mendapatkan pendampingan.
Capaian tersebut menjadi modal awal agar pemanfaatan sabut kelapa tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif Karang Taruna.
Baca Juga: Radar Madiun Rawat Kolaborasi Lintas Bisnis, Diskusi Hangat dengan Srasadesa
Tak hanya kemampuan teknis, pemahaman peserta mengenai pengelolaan limbah turut meningkat.Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata peserta yang sebelumnya 67,5 pada pre-test meningkat menjadi 85 dalam post-test.
Peningkatan itu mencakup pemahaman mengenai pengelolaan limbah, prinsip ekonomi sirkular, potensi pemanfaatan sabut kelapa hingga penggunaan teknologi tepat guna.
Pendekatan ekonomi sirkular menjadi bagian penting dalam program. Sabut kelapa yang sebelumnya berpotensi terbuang didorong masuk kembali dalam siklus pemanfaatan menjadi material yang memiliki kegunaan baru.
Pemilihan Pilang Lor sebagai lokasi program juga mempertimbangkan posisi wilayahnya.Desa Tulung berada di Kecamatan Sampung dan berbatasan langsung dengan Desa Sampung yang menjadi pusat kawasan wisata. Posisi tersebut membuat masyarakat Pilang Lor memiliki peluang ikut mengelola berbagai dampak sosial maupun lingkungan dari perkembangan pariwisata.
"Potensi itu sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal," jelasnya.
Karang Taruna Pilang Lor yang beranggotakan sekitar 10–20 pemuda masih banyak menjalankan aktivitas sosial dan keagamaan. Sementara kegiatan lingkungan dan usaha produktif berkelanjutan belum berkembang secara terarah.
Pengolahan sabut kelapa kemudian diperkenalkan sebagai salah satu kegiatan yang dapat memadukan kepedulian lingkungan dengan peningkatan kapasitas ekonomi pemuda.
Pendampingan juga menyentuh aspek organisasi. Sebab, keberlanjutan kegiatan tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan mesin dan kemampuan mengolah sabut kelapa.Jika sebelumnya pembagian tugas dan dokumentasi kegiatan belum tertata, Karang Taruna Pilang Lor kini telah memiliki Buku Administrasi.
Dokumen tersebut memuat struktur organisasi, pembagian tugas, perencanaan hingga dokumentasi kegiatan, terutama berkaitan dengan program lingkungan.
Penataan tersebut diharapkan membuat kegiatan Karang Taruna lebih terorganisasi dan tidak berhenti setelah program pendampingan berakhir.Program ini merupakan bagian dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat dalam ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat.
Kegiatan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Melalui penguasaan teknologi dan penguatan organisasi tersebut, limbah sabut kelapa di Pilang Lor mulai bergeser dari barang terbuang menjadi sumber daya produktif. Pada saat bersamaan, pemuda desa mendapatkan ruang untuk belajar mengelola lingkungan, teknologi, dan organisasi berbasis ekonomi sirkular. (*)
Editor : Mizan Ahsani