Jawa Pos Radar Madiun – Tak ada lagi hiruk-pikuk siswa di SDN Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo.
Halaman yang biasanya menjadi tempat bermain kini lengang. Ruang kelas kosong, sementara ruang guru terkunci rapat.
Sekolah negeri tersebut ternyata telah ditutup sejak tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai Juli lalu. Minimnya jumlah siswa menjadi persoalan.
Bahkan, selama tiga tahun terakhir SDN Setono tidak mendapatkan seorang pun siswa baru.
Saat ditutup, sekolah tersebut hanya menyisakan enam siswa. Mereka kemudian dipindahkan ke sejumlah SD negeri di sekitar wilayah Setono.
Dafa Putra Pratama salah satunya. Siswa kelas V itu kini melanjutkan pendidikan di SDN 1 Japan.
Perpindahan sekolah rupanya tak membuat Dafa berkecil hati. Sebaliknya, dia senang lantaran memiliki lebih banyak teman.
’’Senang (dipindah, Red) karena temannya banyak,’’ ujar Dafa saat ditemui di sekolah barunya.
Hal serupa dirasakan Riza Roni. Siswa kelas IV tersebut mengaku tidak terlalu keberatan meninggalkan SDN Setono.
Lingkungan sekolah barunya menawarkan hal yang selama ini terbatas: lebih banyak teman sebaya.
’’Senang, banyak teman,’’ ungkap Riza.
Sekretaris Kelurahan Setono Handry Reza Pratama membenarkan SDN Setono ditutup sejak Juli lalu.
Sebelum penutupan, sekolah tersebut hanya memiliki enam siswa yang terdiri atas empat siswa kelas V dan dua siswa kelas IV.
Kondisi tersebut diperparah dengan nihilnya penerimaan siswa baru selama tiga tahun terakhir.
’’Semua siswanya sudah pindah sejak tahun ajaran baru ini, dua ke SDN Japan, sisanya ke SDN Singosaren,’’ jelas Handry.
Dengan demikian, dua siswa melanjutkan pendidikan ke SDN Japan. Sedangkan empat siswa lainnya dipindahkan ke SDN Singosaren.
Pemerintah Kelurahan Setono menyayangkan penutupan sekolah tersebut.
Sebab, SDN Setono merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri yang berada di wilayah kelurahan tersebut.
Berbagai upaya sebelumnya telah dilakukan agar warga tetap menyekolahkan anak mereka di SDN Setono. Namun, langkah tersebut belum mampu mendongkrak jumlah peserta didik.
Menurut Handry, persoalan muncul ketika jumlah calon siswa dalam satu angkatan hanya satu atau dua anak.
Dalam kondisi tersebut, orang tua cenderung memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain.
’’Bukan tidak menerima. Tapi ketika hanya satu atau dua anak, orang tua biasanya setuju untuk melimpahkan ke sekolah lain,’’ terangnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis pukul 15.43, Rabu (19/8), Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Nurhadi Hanuri belum dapat dikonfirmasi terkait penutupan SDN Setono tersebut. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto