Jawa Pos Radar Madiun – Belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo tak melulu berkutat dengan buku dan ruang kelas.
Sejak jenjang SD hingga SMA, para siswa diajak turun langsung ke kebun, kandang, hingga kolam untuk mengenal kewirausahaan dari proses paling dasar.
Mereka belajar bertani, beternak ayam petelur, melakukan budidaya ikan, hingga mengolah makanan dan minuman.
Tak berhenti pada produksi, siswa juga dikenalkan dengan pencatatan keuangan sampai cara menjual hasil usaha.
Pengelola Kewirausahaan SR Terintegrasi 5 Ponorogo Dicky Juli Sumarta mengatakan, konsep tersebut menjadi bagian dari pembelajaran sekolah tanpa dinding.
Siswa didorong memperoleh pengalaman langsung, bukan sekadar memahami teori.
’’Mengembangkan model pembelajaran yang mengedepankan pengalaman langsung,’’ kata Dicky, Minggu (22/8).
Program kewirausahaan tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan.
Pada sektor pertanian, siswa mulai dikenalkan dengan pertanian organik dan hidroponik.
Pengembangannya tak berhenti di sana. Sekolah berencana memperluas pembelajaran menggunakan sistem aeroponik dan akuaponik.
Sektor peternakan juga menjadi laboratorium belajar. Siswa mengelola ayam petelur dan terlibat langsung dalam perawatannya hingga memanen telur.
Sementara pada sektor perikanan, percobaan budidaya telah menunjukkan hasil. Panen ikan perdana dilakukan setelah empat bulan pengembangan.
Hasil produksi tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari proses belajar.
Pertanian, peternakan, dan perikanan juga diproyeksikan ikut menopang kebutuhan pangan di lingkungan sekolah berasrama tersebut.
Yang menarik, siswa tidak hanya diminta menanam, memelihara ternak, atau memanen ikan. Mereka juga dikenalkan dengan keseluruhan rantai bisnis.
Mulai menghitung kebutuhan bahan, merawat tanaman dan ternak, mencatat keuangan, mengolah hasil panen, hingga memasarkannya.
’’Semua proses bisnis murni siswa. Kami hanya memantau dan memberikan arahan,’’ terangnya.
Dengan pola tersebut, SR Terintegrasi 5 Ponorogo ingin siswa memahami bahwa kewirausahaan bukan hanya perkara menghasilkan barang.
Mereka juga harus mampu mengelola biaya dan memastikan produk memiliki pasar.
Ke depan, rantai usaha tersebut bakal dibuat semakin terintegrasi.
Hasil pertanian, peternakan, dan perikanan akan diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum dipasarkan melalui etalase yang disiapkan sekolah.
’’Selain berproduksi, kita juga harus mampu menjual produk agar bisnis berjalan berkelanjutan,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto