SDN Setono Ditutup, DPRD Ponorogo Ingatkan Nasib Siswa Harus Dijamin

Sugeng Dwi N. • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 09:47 WIB
KENANGAN: Bangunan SDN Setono kini lengang setelah seluruh siswanya dipindahkan ke sekolah lain. Sugeng Dwi N./Jawa Pos Radar Ponorogo
KENANGAN: Bangunan SDN Setono kini lengang setelah seluruh siswanya dipindahkan ke sekolah lain. Sugeng Dwi N./Jawa Pos Radar Ponorogo

Jawa Pos Radar Madiun – Bangunan SDN Setono Ponorogo masih berdiri.

Namun, suara siswa tak lagi mengisi ruang-ruang kelasnya setelah seluruh peserta didik dipindahkan ke sekolah lain.

Keputusan menutup sekolah di Kecamatan Jenangan itu kini mendapat dukungan DPRD Ponorogo.

Wakil rakyat menilai penutupan menjadi solusi terakhir setelah jumlah siswa terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Ponorogo Ribut Riyanto mengatakan, pertimbangan utama bukan sekadar sedikitnya jumlah murid.

Kualitas proses pembelajaran siswa juga harus diperhitungkan.

’’Ketika sekolah dipertahankan dengan murid yang sangat sedikit, kasihan siswanya. Proses pembelajaran tidak bisa maksimal,’’ kata Ribut.

Baca Juga: Daftar Fitur Mobil Modern yang Jarang Dipakai, Padahal Jadi Alasan Harga Mahal

Minimnya jumlah siswa juga dinilai membuat distribusi tenaga pendidik dan operasional sekolah kurang efektif.

Karena itu, peserta didik SDN Setono akhirnya dialihkan ke sekolah lain yang dinilai lebih representatif.

Namun, penutupan SDN Setono tidak serta-merta menjadi pola yang akan diterapkan terhadap seluruh sekolah negeri dengan jumlah siswa minim.

Menurut Ribut, regrouping bukan kebijakan baru di Ponorogo.

Langkah serupa pernah diterapkan terhadap sejumlah sekolah beberapa tahun lalu.

’’Penutupan tidak serta-merta dilakukan hanya karena jumlah siswa menurun, banyak faktor yang harus diperhatikan,’’ jelasnya.

Baca Juga: Dulu PMI, Sri Purwanti Kini Sukses Buka Restoran Halal di Taiwan

DPRD bersama Dinas Pendidikan Ponorogo menilai kondisi setiap wilayah harus dilihat secara berbeda.

Faktor geografis dan aksesibilitas menjadi pertimbangan penting sebelum sekolah ditutup atau digabung.

Sekolah di kawasan pegunungan, misalnya, tidak bisa langsung di-regrouping hanya karena memiliki sedikit siswa.

Jarak menuju sekolah alternatif dan kemudahan akses bagi anak juga harus dihitung.

Persoalan sekolah negeri kekurangan siswa pun disebut bukan hanya terjadi di Ponorogo. Fenomena serupa juga dihadapi sejumlah kabupaten dan kota lainnya.

Karena itu, penutupan sekolah ditempatkan sebagai pilihan paling akhir ketika berbagai pertimbangan telah dikaji dan sekolah benar-benar tidak lagi mendapatkan murid.

’’Ini solusi terakhir ketika sekolah benar-benar tidak mendapatkan murid. Tentu semuanya melalui kajian,’’ tegas Ribut. (gen/kid/par)

Editor : Hengky Ristanto
penutupan SDN Setono SDN Setono Ponorogo sekolah negeri kekurangan siswa Dinas Pendidikan Ponorogo