Jawa Pos Radar Madiun – Tidak ada jalur khusus dalam seleksi kepala dinas Ponorogo.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita memastikan seluruh peserta seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) diperlakukan setara, baik berlatar belakang Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) maupun PNS murni.
Kompetensi, kemampuan memahami persoalan, serta gagasan kandidat menjadi pertimbangan dalam menentukan calon terbaik. Tahapan presentasi seleksi JPTP Ponorogo berlangsung 2–4 September.
Bunda Rita, sapaan Lisdyarita, menegaskan latar belakang pendidikan maupun jalur karier tidak menjadi pembeda dalam menentukan pejabat yang nantinya mengisi enam posisi kepala dinas.
’’Ini tidak boleh membeda-bedakan. Kalau memang dia bagus, ya sudah, harus diangkat,’’ tegas Bunda Rita, Kamis (3/9).
Menurut dia, tahapan presentasi menjadi kesempatan untuk menguji sejauh mana kandidat memahami persoalan di organisasi perangkat daerah (OPD) yang dituju.
Peserta juga dituntut memiliki gagasan dan terobosan untuk membenahi OPD apabila dipercaya memimpin.
Karena itu, kandidat tidak cukup hanya mengandalkan rekam jejak maupun latar belakang pendidikan. Pemkab Ponorogo turut menggandeng perguruan tinggi negeri (PTN) dalam proses seleksi untuk memperkuat objektivitas penilaian.
Akademisi diharapkan mampu menggali kemampuan dan gagasan setiap kandidat secara lebih mendalam.
’’Kalau dari universitas-universitas ini pasti pertanyaannya lebih banyak, lebih tajam, lebih kena langsung to the point ke posisi mereka mau mengambil dinas apa,’’ jelasnya.
Bagi Lisdyarita, Pemkab Ponorogo membutuhkan pejabat yang kompeten dan mampu bekerja cepat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kemampuan pejabat menjalankan tugas menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penataan birokrasi.
Dia juga menegaskan tidak ingin melakukan pergeseran pejabat semata-mata karena adanya keinginan pihak tertentu apabila pejabat bersangkutan masih menunjukkan kinerja yang baik.
’’Kadang teman-teman inginnya, Bunda geser, Bunda geser. Tapi kenyataannya dia masih mampu di situ. Kenapa harus menggeser orang yang sudah bagus?’’ tanyanya balik. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto