Waduk Bendo Ponorogo Mengering, Nelayan Beralih Tanam Jagung dan Kacang Tanah

Sugeng Dwi N. • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:04 WIB
JADI LADANG: Area hulu Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, yang mengering dimanfaatkan warga untuk menanam jagung dan kacang tanah selama kemarau panjang. Sugeng Dwi N./Jawa Pos Radar Ponorogo
JADI LADANG: Area hulu Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, yang mengering dimanfaatkan warga untuk menanam jagung dan kacang tanah selama kemarau panjang. Sugeng Dwi N./Jawa Pos Radar Ponorogo

Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau panjang mengubah wajah hulu Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo.

Area yang biasanya tergenang air kini berubah menjadi hamparan ladang jagung dan kacang tanah.

Penyusutan debit air Waduk Bendo sudah dirasakan warga sekitar empat bulan terakhir.

Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan kehilangan lokasi mencari ikan dan memilih banting setir menjadi petani.

Agung Margo, warga setempat, mengatakan penyusutan air mulai terasa sejak awal musim kemarau.

Nelayan yang biasanya mencari ikan menggunakan perahu kini harus menempuh jarak cukup jauh untuk mencapai titik yang masih tergenang.

’’Kalau mencari ikan harus berjalan lebih dari dua kilometer untuk mencapai genangan air,’’ kata Agung, Kamis (3/9).

Di tengah kondisi tersebut, munculnya hamparan tanah bekas genangan justru menjadi alternatif sumber penghasilan.

Warga memanfaatkan lahan yang mengering untuk menanam jagung dan kacang tanah.

Namun, bercocok tanam di bekas genangan Waduk Bendo bukan tanpa kendala.

Warga harus menggunakan pompa atau mesin diesel untuk mengalirkan air dari sungai lantaran jaringan irigasi lama telah rusak.

Meski harus mengeluarkan biaya tambahan, warga memilih bertani daripada kehilangan penghasilan selama kemarau panjang.

’’Akhirnya kami manfaatkan untuk ladang, nanam jagung, ada yang kacang tanah juga,’’ ungkap Agung.

Tulus, warga lainnya, mengatakan kacang tanah menjadi salah satu komoditas yang banyak dipilih.

Harga kacang tanah di tingkat petani saat ini mencapai sekitar Rp 15 ribu per kilogram dalam kondisi basah.

Sementara, harga jagung berada di kisaran Rp 6 ribu per kilogram. Hasil bercocok tanam tersebut menjadi pemasukan alternatif bagi warga selama aktivitas mencari ikan terganggu akibat menyusutnya debit air.

Warga menyadari pemanfaatan lahan bekas genangan tersebut hanya bersifat sementara.

Ketika debit air Waduk Bendo kembali meningkat, ladang akan kembali tergenang dan warga kembali menjalani aktivitas sebagai nelayan.

’’Biasanya cari ikan untuk dijual, tapi karena kemarau ganti bertani, setiap tahun seperti ini,’’ ujar Tulus. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
nelayan di Ngadirojo kacang tanah kemarau panjang waduk bendo ponorogo