Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ponorogo meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau.
Sepanjang Juli–Agustus 2026, BPBD Ponorogo mencatat 54 kejadian dengan total area terdampak mencapai 189,11 hektare.
Karhutla tersebut tersebar di 38 desa dan kelurahan pada 13 kecamatan. Area yang terbakar tidak hanya kawasan hutan, tetapi juga hutan rakyat dan lahan milik warga.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, puluhan kejadian tersebut merupakan laporan yang diterima hingga akhir Agustus.
‘’Sampai dengan tanggal 31 Agustus, telah terlaporkan sebanyak 54 kejadian karhutla kepada BPBD,’’ kata Masun, Sabtu (5/9).
Kecamatan Sambit menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas, mencapai 42,505 hektare. Berikutnya Kecamatan Slahung seluas 30,6 hektare dan Kauman 30 hektare.
Sementara dari sisi frekuensi kejadian, intensitas kebakaran cukup tinggi tercatat di Kecamatan Balong, Slahung, Jambon, Bungkal, dan Sambit.
‘’Masing-masing wilayah melaporkan lebih dari empat hingga lima kejadian sepanjang Juli dan Agustus,’’ jelasnya.
Masun menyebut kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api lebih mudah menyala dan merambat.
Tiupan angin turut meningkatkan risiko titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Kewaspadaan terhadap karhutla Ponorogo perlu ditingkatkan karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September.
Aktivitas masyarakat yang melibatkan api di sekitar hutan maupun lahan kering juga harus diminimalkan.
BPBD Ponorogo mengingatkan masyarakat tidak membuang sumber api sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar.
‘’Pesan kami, tidak menyalakan api sembarangan maupun membuka lahan dengan cara dibakar,’’ imbaunya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto