Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kekeringan Ponorogo mulai meluas.
Sedikitnya 342 warga di dua desa harus mengandalkan pasokan air bersih setelah sumber air di wilayah mereka tak lagi mampu mencukupi kebutuhan selama musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo telah mendistribusikan total 31 ribu liter air bersih hingga akhir Agustus 2026. Dropping dilakukan secara bertahap sejak akhir Juli.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, distribusi menyasar 189 warga Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung.
Sedangkan 153 warga lainnya berada di Dusun Munggur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal.
‘’Sejak akhir Juli hingga 31 Agustus, 18 ribu liter disalurkan ke Dusun Dungus. Sementara di Dukuh Munggur 13 ribu liter,’’ kata Masun, Minggu (6/9).
Kebutuhan dropping air bersih berpotensi bertambah seiring munculnya laporan dari wilayah lain.
Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung, menjadi salah satu daerah yang baru mengajukan permohonan bantuan.
BPBD Ponorogo terlebih dahulu melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Ketersediaan sarana penampungan air juga harus dipastikan sebelum distribusi dimulai.
‘’Distribusi air diperkirakan dimulai pekan depan setelah tandon tersedia. Kami asesmen bersama pemerintah desa untuk menentukan kebutuhan,’’ terangnya.
Setiap laporan kekurangan air akan ditindaklanjuti dengan asesmen. Selain menghitung kebutuhan air bersih, BPBD juga memetakan kebutuhan sarana pendukung seperti tandon dan jeriken.
Penanganan kekeringan tidak selalu dilakukan dengan pengiriman air menggunakan mobil tangki. Kebutuhan setiap wilayah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
‘’Penanganan tidak serta-merta dilakukan dengan dropping. Desa Wates, Slahung memilih bantuan tandon dari BPBD,’’ ungkap Masun.
BPBD Ponorogo turut menggandeng PMI dan relawan sosial untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diperlukan apabila jumlah wilayah terdampak kekeringan terus bertambah selama musim kemarau. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto