Jawa Pos Radar Madiun – Beban TPA Mrican yang telah mengalami kelebihan kapasitas memaksa Pemkab Ponorogo memperkuat pengelolaan sampah dari hulu.
Sebanyak 141 bank sampah di desa hingga organisasi perangkat daerah (OPD) kini dioptimalkan untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir tersebut.
Langkah itu ditempuh di tengah belum adanya kepastian pembangunan TPA baru.
Sementara, produksi sampah yang masuk ke TPA Mrican disebut mencapai empat ton setiap hari.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Pertamanan (PSP) DLH Ponorogo Adhi Fahrianto Sulistyawan mengatakan, 141 bank sampah tersebut tersebar di sejumlah desa hingga lingkungan OPD.
Sebagian merupakan bank sampah lama yang kembali diaktifkan.
’’Totalnya 141 bank sampah, ini akan membantu menekan sampah yang masuk ke TPA Mrican,’’ kata Adhi, Minggu (13/9).
Optimalisasi bank sampah juga menyasar lingkungan Pemkab Ponorogo.
Dari total 56 OPD, sebanyak 45 di antaranya telah rutin melaporkan aktivitas bank sampah setiap bulan secara daring.
Menurut Adhi, pengelolaan sampah dari sumbernya semakin penting di tengah kondisi TPA Mrican yang overload.
Pemilahan diharapkan mampu menekan volume sampah yang dibuang sehingga hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi dikirim ke TPA.
’’Menekan beban TPA Mrican sambil menunggu kepastian pembangunan TPA baru,’’ tegasnya.
Sejauh ini, keberadaan bank sampah disebut mampu mengurangi sekitar 3–4 persen sampah yang masuk ke TPA Mrican.
Pengurangan tersebut terutama berasal dari sampah anorganik seperti plastik yang telah dipilah dan dikumpulkan sejak dari sumbernya.
Persentase tersebut memang belum besar. Namun, setiap pengurangan dinilai berarti mengingat kapasitas TPA Mrican sudah menghadapi tekanan.
’’Memang masih sedikit, tapi pengurangan tersebut menjadi penting ketika TPA Mrican sudah mengalami kelebihan kapasitas,’’ pungkas Adhi. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto