Jawa Pos Radar Madiun – Perundungan atau bullying di sekolah tidak selalu berupa kekerasan fisik. Ucapan yang merendahkan, pengucilan terhadap teman, hingga perundungan melalui media sosial (medsos) juga dapat membuat siswa kehilangan rasa aman.
Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo pun mendorong pembentukan duta anti-bullying di jenjang sekolah menengah pertama (SMP) untuk memperkuat pencegahan perundungan.
Kepala Dindik Ponorogo Nurhadi Hanuri mengatakan, sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Sebab, proses pembelajaran dapat terganggu ketika siswa merasa tertekan atau tidak diterima di lingkungan sekolah.
‘’Pendidikan menjadi bermasalah jika tidak bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak saat aktivitas di sekolah,’’ kata Nurhadi, Senin (21/9).
Menurut dia, upaya pencegahan perundungan di sekolah tidak cukup hanya dibebankan kepada guru. Keterlibatan siswa juga diperlukan untuk membangun lingkungan belajar yang saling menghargai dan bebas dari tindakan bullying.
Karena itu, Dindik Ponorogo mendorong pembentukan duta anti-bullying di tingkat SMP. Para pelajar yang terlibat diharapkan dapat menjadi penggerak dalam upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah masing-masing.
Selain mengajak teman sebaya untuk menghindari tindakan perundungan, duta anti-bullying diharapkan mampu memberikan dukungan kepada siswa yang mengalami maupun menyaksikan bullying.
Interaksi antara guru dan siswa juga menjadi perhatian dalam upaya menciptakan sekolah yang aman. Melalui keterlibatan seluruh warga sekolah, pencegahan perundungan diharapkan dapat dimulai dari kesadaran masing-masing peserta didik.
‘’Pelajar yang terlibat diharapkan mampu menjadi penggerak sekaligus membantu teman yang mengalami atau menyaksikan perundungan,’’ harapnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto