Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih di Ponorogo semakin meluas. Jumlah wilayah terdampak kekeringan kini bertambah menjadi lima desa.
Terbaru, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo pun turun tangan memetakan kebutuhan warga sebelum menyalurkan bantuan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo Masun mengatakan, berdasarkan surat permohonan bantuan yang diterima, sedikitnya 10 kepala keluarga (KK) atau sekitar 30 jiwa di Desa Caluk terdampak kekeringan.
BPBD tengah menyiapkan langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Selain bantuan air, jeriken dan tandon juga direncanakan dikirim ke lokasi terdampak.
Sarana penampungan tersebut diperlukan untuk mempermudah distribusi air bersih kepada masyarakat. Dengan adanya tandon, penyaluran bantuan dapat dipusatkan pada satu lokasi.
‘’Jeriken dan tandon nanti untuk tempat penampungan airnya, agar proses dropping dapat dilakukan di satu titik,’’ kata Masun, Senin (21/9).
Menurut dia, Desa Caluk bukan wilayah baru dalam peta kekeringan di Ponorogo. Desa tersebut hampir setiap tahun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih ketika musim kemarau.
Namun, penanganan kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya lebih banyak dilakukan oleh kelompok relawan. Karena itu, BPBD Ponorogo bakal berkoordinasi dengan para relawan untuk menentukan langkah penanganan kali ini.
‘’Nanti kami koordinasi juga dengan relawan, apakah ikut membantu penanganan kekeringan atau seperti apa,’’ ungkapnya.
Sementara itu, bertambahnya Desa Caluk membuat jumlah wilayah terdampak krisis air bersih di Ponorogo mencapai lima desa.
Sebelumnya, BPBD telah menangani kekeringan di Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung; Desa Munggu, Kecamatan Bungkal; Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon; serta Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung.
Dengan demikian, penanganan kekeringan kini mencakup lima desa yang tersebar di lima kecamatan berbeda.
Masun memastikan BPBD Ponorogo siap memberikan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak. Penanganan krisis air bersih juga melibatkan sejumlah mitra dan kelompok relawan.
‘’Berapa pun BPBD Ponorogo mampu karena tidak sendiri, ada mitra-mitra lain, ada juga relawan,’’ tegasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto