Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Jawa Timur semakin meluas. Hingga 17 September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan ekstrem.
Pemprov Jatim pun memperkuat penanganan melalui distribusi bantuan air bersih, pemetaan sumber air baru, hingga pengeboran sumur. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga mengajak masyarakat menggelar salat istisqa secara serentak pada Jumat (25/9).
Khofifah mengatakan, penanganan kekeringan menjadi perhatian Pemprov Jatim seiring menyusutnya sumber air di sejumlah wilayah. Salah satu daerah yang mendapat bantuan adalah Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.
Saat mengunjungi desa tersebut pada Sabtu (19/9), Khofifah turun langsung menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Sebanyak tiga truk tangki BPBD dikerahkan untuk mendukung distribusi air bersih. Selain itu, Pemprov Jatim menyalurkan sedikitnya 200 jeriken dan 50 tandon air sebagai sarana penampungan bagi warga.
‘’Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan bisa segera mendapatkan bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,’’ kata Khofifah.
Menurut dia, penanganan krisis air bersih tidak cukup hanya mengandalkan distribusi bantuan menggunakan truk tangki. Pemprov Jatim juga berupaya mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di wilayah terdampak.
Salah satunya melalui pemetaan sumber air yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan. Apabila ditemukan sumber air yang memadai, distribusi dapat dilakukan melalui pembangunan jaringan pipa menuju permukiman warga.
Selain itu, Pemprov Jatim melakukan pengeboran sumur untuk mencari sumber air bawah tanah. Namun, upaya tersebut tidak selalu berjalan mulus karena kondisi geologis di setiap lokasi berbeda.
‘’Ada titik sudah dibor sampai 200 meter, ketemunya batu. Sudah sampai 19 mata bor itu putus. Artinya ada kesulitan-kesulitan tertentu. Tapi juga ada yang 90 meter ketemu air. Di sini (Karangpatihan, Red) nanti coba di petakan,’’ ujarnya.
Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim juga telah melakukan modifikasi cuaca sejak awal September sebagai bagian dari upaya penanganan kekeringan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meluasnya wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang.
Hingga 17 September, tercatat 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan ekstrem.
Di tengah berbagai langkah penanganan tersebut, Khofifah turut mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual melalui salat istisqa atau salat meminta hujan.
Dia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur menggelar salat istisqa secara serentak setelah salat Jumat pada 25 September 2026.
Ajakan tersebut juga ditujukan kepada masyarakat Ponorogo yang tengah menghadapi krisis air bersih akibat kemarau panjang.
‘’Termasuk warga Ponorogo juga kami harapkan, ini bagian ikhtiar kita agar Allah SWT menurunkan hujan rahmat dan manfaat,’’ pungkasnya. (gen/kid)