Angka Kematian Ibu dan Bayi di Ponorogo Turun, Penyakit Penyerta Masih Mengintai

Sugeng Dwi N. • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:53 WIB
Ilustrasi susu formula bayi 6 bulan.
Data 2026 masih bersifat sementara hingga September, sedangkan data 2024 dan 2025 mencakup satu tahun penuh.

Jawa Pos Radar Ponorogo – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Ponorogo menunjukkan penurunan. Hingga September 2026, tercatat empat kasus kematian ibu dan 67 kasus kematian bayi. Kendati demikian, penyakit penyerta masih menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo.

Berdasarkan data Dinkes Ponorogo, jumlah kematian ibu pada 2024 mencapai 11 kasus. Angka tersebut turun menjadi lima kasus sepanjang 2025. Sementara itu, hingga September tahun ini, tercatat empat kasus.

Penurunan juga terlihat pada jumlah kematian bayi. Sepanjang 2024, tercatat 121 kasus kematian bayi. Jumlahnya berkurang menjadi 96 kasus pada 2025 dan tercatat 67 kasus hingga September 2026.

Meski jumlah kasus sementara tahun ini lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya, Dinkes Ponorogo tetap mewaspadai berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi.

Kepala Dinkes Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti mengatakan, empat kasus kematian ibu yang tercatat tahun ini menjadi perhatian pihaknya.

Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, kematian ibu tidak seluruhnya disebabkan komplikasi saat proses persalinan. Sejumlah kasus berkaitan dengan penyakit penyerta yang dialami ibu.

‘’Kematian itu tidak mutlak dari kasus karena persalinan atau perdarahan, tapi karena jantung, diabetes, dan lainnya,” kata Dyah.

Menurut dia, keberadaan penyakit penyerta perlu menjadi perhatian dalam upaya menekan risiko kematian ibu. Terlebih, kondisi kesehatan ibu dapat memengaruhi keselamatan selama masa kehamilan hingga persalinan.

Sementara itu, Dinkes Ponorogo mencatat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kasus kematian bayi. Di antaranya berat badan lahir rendah (BBLR), kesulitan bernapas atau asfiksia, malnutrisi, serta kelainan jantung bawaan.

Berbagai kondisi tersebut masih menjadi tantangan dalam upaya menekan angka kematian bayi di Ponorogo.

Dyah menegaskan, penanganan persoalan kesehatan ibu dan bayi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Upaya tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada dinas kesehatan.

Dukungan organisasi masyarakat dan keagamaan dinilai diperlukan untuk memperkuat upaya pencegahan serta meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan ibu dan bayi.

“Kami butuh dukungan dari semua pihak, tidak hanya dinkes saja tapi juga PKK, NU, Muslimat, Gereja, dan ormas lainnya,” pungkasnya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
penyakit penyerta berat badan lahir rendah angka kematian bayi dinkes ponorogo angka kematian ibu