Jawa Pos Radar Ponorogo – Peta kekeringan di Kabupaten Ponorogo terus meluas.
Setelah enam titik mendapat pasokan air bersih, kini empat RT di Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, dilaporkan mengalami krisis air.
BPBD Ponorogo masih melakukan asesmen untuk menghitung jumlah warga terdampak dan kebutuhan air bersih.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan, laporan kekurangan air bersih di Wonodadi disampaikan penjabat kepala desa setempat.
Petugas selanjutnya diterjunkan untuk memetakan kondisi di lapangan sebelum distribusi bantuan dilakukan.
’’Semakin banyak warga yang terdampak, semakin besar pula volume air yang kami dropping,’’ ungkap Masun, Sabtu (26/9).
Sebelumnya, krisis air bersih juga melanda Dukuh Gondang, Desa Tumpuk, Kecamatan Sawo.
BPBD mulai memasok 12 ribu liter air untuk 303 jiwa dari 117 kepala keluarga (KK), Kamis (24/9).
Kondisi serupa terjadi di Dukuh Kupit, Desa Caluk, Kecamatan Slahung. Sebanyak 75 jiwa dari 36 KK bergantung pada bantuan air bersih.
BPBD mulai memasok 5 ribu liter air ke wilayah tersebut sejak Minggu (20/9).
Selain dua lokasi tersebut, distribusi air bersih juga menyasar empat titik lain.
Yakni, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung; Desa Munggu, Kecamatan Bungkal; Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung; serta Desa Sidorejo, Kecamatan Jambon.
Secara keseluruhan, distribusi air bersih BPBD Ponorogo mencapai 67 ribu liter per pekan.
Pasokan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama sumber air di wilayah terdampak belum kembali mencukupi.
Tak hanya mengandalkan droping air, BPBD juga menyiapkan pipanisasi sebagai solusi jangka panjang. Pemetaan sumber air telah dilakukan di Karangpatihan.
’’Upaya serupa direncanakan menyasar Gelang Kulon dan Munggu dengan dukungan pemerintah provinsi serta Baznas,’’ terangnya. (err/kid)
Editor : Hengky Ristanto