Jawa Pos Radar Ponorogo – Dua tahun Kantor Desa Serag, Kecamatan Pulung, Ponorogo, tinggal puing. S
ejak dibongkar pada 2024, kantor pelayanan masyarakat tersebut belum juga dibangun kembali.
Puluhan warga akhirnya menggelar tirakatan di bekas kantor desa, Sabtu malam (26/9).
Sekitar pukul 21.30, warga menggelar tikar dan duduk bersama di antara puing bangunan.
Tanpa penerangan, mereka menyampaikan keprihatinan sekaligus mempertanyakan kepastian pembangunan kembali kantor desa.
Suswondo, salah seorang warga, mengatakan ketiadaan kantor desa turut berdampak pada pelayanan administrasi.
Pemerintah desa (pemdes) harus menggunakan lokasi lain untuk melayani masyarakat, termasuk memanfaatkan bangunan TK.
’’Ini tirakatan. Kantor desa sudah dibongkar sejak 2024 hingga kini tidak dibangun. Warga untuk mengurus administrasi harus pindah ke sekolah TK,’’ ujarnya.
Warga meminta Kepala Desa Serag Hariyadi dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memberikan penjelasan mengenai alasan pembongkaran serta kepastian pembangunan kembali kantor desa.
Mereka juga meminta informasi mengenai rencana pembangunan, ketersediaan anggaran, hingga target penyelesaian kantor pelayanan tersebut dibuka kepada masyarakat.
Tuntutan warga tidak berhenti pada persoalan kantor desa.
Mereka turut meminta transparansi APBDes dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), termasuk unit usaha Pasar Serag dan produksi batako.
Sejumlah proyek desa yang dinilai warga belum tuntas juga ikut dipertanyakan.
Kasi Pemerintahan Desa Serag Anggoro Hari Wibowo mengaku tidak mengetahui alasan kantor desa tersebut dibongkar maupun penyebab pembangunan kembali belum dilakukan.
’’Kalau saya sendiri bukan tupoksi saya. Sudah dibongkar sejak 2024. Kalau alasannya kenapa, saya tidak tahu,’’ katanya.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Desa Serag Hariyadi belum memberikan keterangan mengenai tuntutan warga tersebut. (gen/her)
Editor : Hengky Ristanto