Libur semester membawa Shofiyah Nahda Nursabella Putri menemukan kesenangan baru.
Lima kali mengikuti Madiun Book Party, mahasiswi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo itu akhirnya memboyong semangat membaca bersama ke Ponorogo.
ERLITA HERMININGSIH, Jawa Pos Radar Ponorogo
BUKU tak harus dinikmati sendirian di kamar atau dalam sunyi perpustakaan.
Bagi Shofiyah Nahda Nursabella Putri, buku justru bisa menjadi pintu masuk untuk bertemu orang baru, bertukar cerita, sekaligus membangun pertemanan.
Gagasan itulah yang melahirkan Ponorogo Book Party. Komunitas membaca yang terbuka bagi siapa saja tanpa pendaftaran maupun pungutan biaya.
Semua bermula ketika perempuan yang akrab disapa Shofi itu mengisi libur semester dengan mengikuti Madiun Book Party.
Mahasiswi semester V UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo tersebut rupanya ketagihan dengan suasana membaca bersama.
’’Saya tidak pernah absen selama lima kali berturut-turut mengikuti Madiun Book Party. Lalu terpikir untuk mendirikan di Ponorogo,’’ cerita perempuan 21 tahun tersebut, Minggu (27/9).
Bersama dua rekannya dan dukungan Indonesia Book Party, Shofi kemudian merintis Ponorogo Book Party.
Setiap Sabtu, mereka berpindah-pindah ruang publik. Mulai Alun-Alun Ponorogo, Taman Pemkab, Taman Klono Sewandono, hingga lapangan di kawasan Kodim.
Pertemuan biasanya dimulai dengan silent reading. Para peserta membaca buku masing-masing.
Setelah itu, mereka bergantian menceritakan isi maupun kesan yang didapat dari bacaannya.
Tak ada batasan genre. Komik, novel, hingga buku filsafat mendapat tempat yang sama.
’’Paling menyenangkan itu sharing session karena kami bisa bercerita tentang isi buku dan hal-hal yang membuat kami termotivasi,’’ tuturnya.
Ponorogo Book Party juga tak mensyaratkan peserta membawa buku. Mereka yang datang sekadar ingin mendengarkan cerita dan berdiskusi tetap bisa bergabung.
Pesertanya pun beragam. Mulai anak-anak, mahasiswa, hingga pekerja pernah duduk bersama dalam kegiatan tersebut.
Shofi turut memanfaatkan media sosial untuk membagikan aktivitas komunitas.
Cerita dan dokumentasi sederhana dari setiap pertemuan diharapkan memancing rasa penasaran lebih banyak orang untuk datang dan membaca bersama.
Ke depan, Shofi ingin Ponorogo Book Party terus berkembang. Bukan sebatas menambah jumlah peserta, tetapi juga memperluas pertemanan dan melahirkan program-program literasi baru.
’’Semakin besar, semakin banyak temannya, dan semakin bagus programnya,’’ harapnya. *** (kid)
Editor : Hengky Ristanto