Jawa Pos Radar Madiun - Christine Hery Purnawaty memilih jalan berbeda ketika jumlah pembatik di Ponorogo semakin berkurang.
Alih-alih menyerah pada keadaan, pemilik Batik Lesoeng itu mencari para pembatik yang telah pensiun.
Mereka diajak kembali memegang canting dan menghidupkan keterampilan yang pernah menjadi bagian penting industri batik Ponorogo.
Langkah tersebut dilakukan Christine ketika merintis Batik Lesoeng di Kelurahan Mangkujayan pada 2009. Saat itu, industri batik Ponorogo telah menyusut dibandingkan masa kejayaannya.
’’Kami awal-awalnya cari pembatik yang sudah pensiun. Kami ajak lagi untuk ikut membatik dan melestarikan batik di Ponorogo,’’ ungkap Christine, Minggu (4/10).
Besarnya industri batik Ponorogo pada masa lalu, menurut Christine, juga terlihat dari keberadaan industri penunjangnya.
Sedikitnya empat pabrik kain mori pernah beroperasi untuk memenuhi kebutuhan para pembatik.
’’Pabrik kain mori saja dulu ada sekitar empat di Ponorogo karena banyaknya pembatik dan industri pada zamannya,’’ terangnya.
Batik Lesoeng kini memproduksi batik tulis maupun batik cap. Motif khas Ponorogo dan berbagai motif lainnya terus dikembangkan dengan menyesuaikan permintaan pasar.
Di tengah perubahan tren, warna natural tetap dipertahankan sebagai salah satu karakter produknya.
Namun, inovasi desain terus dilakukan agar batik mampu mengikuti perkembangan selera konsumen.
’’Motif yang semakin beragam dan kekinian tentu harus mengikuti tren pasar juga, agar batik tetap bertahan,’’ ujarnya.
Tak hanya berinovasi pada produk, Christine memanfaatkan berbagai pameran untuk memperluas pasar.
Strategi tersebut menjadi salah satu cara mempertemukan produk batik Ponorogo dengan konsumen di tengah perubahan pola belanja dan selera masyarakat.
’’Biasanya kami kenalkan batik lewat berbagai pameran,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto