Adab yang Utama, Muhammad Oziel Kritisi Kebiasaan Mudah Menghujat di Kolom Komentar

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:35 WIB
Muhammad Oziel Galang Saputra, siswa SMPN 1 Kauman Ponorogo, saat menyampaikan materi dakwah pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 di Pendapa Agung Kabupaten Ponorogo, Kamis (15/10).
Muhammad Oziel Galang Saputra, siswa SMPN 1 Kauman Ponorogo, saat menyampaikan materi dakwah pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 di Pendapa Agung Kabupaten Ponorogo, Kamis (15/10).

Jawa Pos Radar Madiun – Kebebasan berekspresi di panggung digital sering kali disalahartikan sebagai kemerdekaan tanpa batas untuk meluapkan amarah dan kebencian.

​Kemudahan mengetik kata-kata di layar gawai kerap memicu seseorang bertindak impulsif tanpa mempertimbangkan beban moral yang ditimbulkan.

​Isu krusial mengenai etika berkomunikasi tersebut diulas secara tajam oleh Muhammad Oziel Galang Saputra pada babak penyisihan Festival Dai Cilik 2026 Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Ponorogo, Kamis (15/10).

Baca Juga: Syafa Aulia Ingatkan Senantiasa Berbuat Baik pada Festival Dai Cilik 2026

​Tampil percaya diri di panggung Pendapa Agung Kabupaten Ponorogo mewakili SMPN 1 Kauman Ponorogo, Oziel membawakan materi bertajuk "Jaga Lisan, Jaga Jemari: Remaja Islami yang Bijak Bermedia Sosial dan Santun Berinteraksi".

​Di hadapan dewan juri dan puluhan audiens, ia menyoroti betapa ringan jemari sebagian orang saat mencela dan menghujat sesama di jejaring sosial.

​"Setiap tindakan yang kita lakukan di media sosial memiliki konsekuensi moral yang sangat besar. Sekarang kita begitu mudah berkomentar dan menghujat orang lain, padahal itu sama sekali bukan ajaran Rasulullah SAW," tegas Oziel. (*)

Editor : Mizan Ahsani
Festival Dai Cilik 2026 media sosial SMPN 1 remaja ponorogo