Surplus Beras, Pemkab Ponorogo Jajaki Pasar Baru di Ambon

Sugeng Dwi N. • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 16:50 WIB
STOK AMAN: Persediaan beras di gudang Bulog Pacitan hampir mencapai 3.600 ton. NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN
KERJA SAMA: Pemkab Ponorogo dan Pemkot Ambon menjajaki peluang perdagangan beras lokal sekaligus pengembangan seni dan budaya antardaerah. DOK RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Ponorogo – Surplus produksi beras di Ponorogo mulai diarahkan untuk membuka pasar antardaerah. Pemkab Ponorogo membidik Kota Ambon, Maluku, sebagai salah satu tujuan pemasaran beras lokal.

Penjajakan perdagangan tersebut memanfaatkan hubungan kerja sama seni dan budaya kedua daerah.

Tawaran itu disampaikan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita saat bertemu Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena dalam kunjungannya ke Ambon.

Meski demikian, pembicaraan kedua kepala daerah belum menghasilkan kesepakatan perdagangan beras. Peluang pemasaran komoditas pangan tersebut masih dalam tahap penjajakan.

Lisdyarita mengatakan, Ponorogo dan Ambon memiliki kesamaan dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Keduanya tergabung dalam jaringan kota kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Selain itu, masing-masing daerah memiliki festival yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

‘’Ponorogo dan Ambon sama-sama tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network, sama-sama punya festival dalam KEN (Karisma Event Nusantara) 2026,’’ terang Lisdyarita yang akrab disapa Bunda Rita, Minggu (1/11).

Ponorogo memiliki Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP). Sementara Ambon mengandalkan Amboina International Music Fest (AIMF).

Kesamaan tersebut menjadi salah satu dasar pembicaraan pengembangan hubungan antardaerah, termasuk membuka peluang kerja sama ekonomi.

Dalam kunjungannya, Lisdyarita turut menyaksikan penyelenggaraan AIMF di Lapangan Merdeka Ambon.

Dia menilai pengelolaan kegiatan musik di Ambon menarik untuk dipelajari sebagai bahan pengembangan ekosistem seni dan budaya di Ponorogo.

Pengalaman Ambon dalam mengembangkan festival musik dinilai dapat menjadi referensi bagi Ponorogo untuk memperkuat penyelenggaraan kegiatan seni, khususnya yang berkaitan dengan Reog Ponorogo.

‘’Kesamaan budaya dan pengembangan budaya ini yang kami jajaki bersama,’’ ujarnya.

Di sisi lain, Lisdyarita menilai Ponorogo telah memiliki modal kuat dalam menjaga keberlanjutan kesenian reog.

Regenerasi seniman terus dilakukan, salah satunya melalui pembelajaran muatan lokal di sekolah. Upaya tersebut menjadi bagian dari pelestarian reog kepada generasi muda.

Pengakuan internasional terhadap Reog Ponorogo juga menjadi kekuatan tersendiri dalam pengembangan kerja sama budaya dengan daerah lain.

‘’Nilai plus kita adalah Reog Ponorogo sudah resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia,’’ ungkapnya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
Kerja Sama Ponorogo Ambon beras ponorogo Reog Ponorogo Pemkab Ponorogo Lisdyarita