PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Barongan reog bertransformasi sesuai zamannya. Mengalami banyak perubahan dari masa ke masa. Jejak paling kentara dari kepala barongan tertua dibuat pada 1910 silam. Kepala harimau berukuran 50 sentimeter itu terbuat dari kayu dadap, rotan, mancung kelapa, kayu jati, dan serpihan kayu dadap. ‘’Bentuknya relatif kecil tapi lebih berat dibandingkan kepala barongan saat ini,’’ kata Muhammad Wahyu Wibowo, perajin reog asal Desa/Kecamatan Mlarak, Selasa (26/7).
Tradisi menggunakan kulit harimau menjadi lapisan barongan digunakan hingga 2000. Setelah itu, sudah tidak ada lagi yang menggunakan jenis kulit ini. Diganti kulit kambing yang sudah disamak. Perajin lalu melukis untuk membuat corak menyerupai kulit harimau. ‘’Itu disebut corekan atau tiruan,’’ kata Bowo, sapaan Muhammad Wahyu Wibowo.
Detail barongan tertua tetap sama hingga 1960. Termasuk bahan untuk membuat mata barongan menggunakan tutup rodong (stoples kaca) berbentuk bulat. Memasuki era 1980, bahan untuk pembuatan mata barongan berubah. Perajin tetap menggunakan material kaca, namun dibentuk mirip dengan mata harimau. Perubahan drastis itu membuat perajin di masanya menjuluki mata barongan dengan sebutan Suryakanta. ‘’Bahan kaca saat itu didatangkan dari luar negeri,’’ terangnya.
Era 1980-an, bentuk barongan mulai mengalami perubahan signifikan. Semula 50 sentimeter menjadi beragam ukuran. Menyesuaikan permintaan konsumen. ‘’Sejak 1980 bentuk dan ukuran berubah hingga sekarang. Bisa mencapai 90 sentimeter menyesuaikan permintaan konsumen,’’ urainya.
Era 1990-an, perajin tak lagi mendatangkan bahan kaca dari luar negeri untuk pembuatan mata barongan. Sejak saat itu, material serupa mudah didapatkan di dalam negeri. Selain itu, mata berbentuk setengah lingkaran dengan corak dan perpaduan warna yang lebih beragam. Mulai emas, kuning, oranye, hingga kombinasi warna lainnya. ‘’Warna mata ini mencerminkan karakter barongan,’’ sebut Bowo.
Di era itu, bentuk alis barongan turut mengalami perubahan. Dibuat dengan sudut lebih ke atas untuk menampilkan kesan garang. Berbeda dari sebelumnya yang lebih condong ke bawah. ‘’Dulu matanya lebih melorok (melotot, Red), seperti ada wibawanya. Jadi, diam saja sudah terlihat menakutkan. Kalau sekarang melilik (mendelik) seperti orang yang sedang marah,’’ paparnya.
Memasuki era 2010, terjadi perubahan pada pemasangan rambut dan bentuk gigi. Dulu, rambut menjuntai ke bawah seperti rambut manusia. Tanpa proses sasak maupun dibentuk. Warnanya merah kehitam-hitaman. Sejak era itu hingga sekarang, bentuknya menyerupai sanggul yang digulung ke atas lalu dibalik. Warnanya juga lebih blonde. Sementara untuk gigi berubah lebih meruncing dan terlihat tipis dari dulunya kecil mengerucut. ‘’Warna rambut ini disesuaikan dengan karakter yang diinginkan. Misal kesan beringas, rambutnya dibuat gerak agar terlihat lebih hidup,’’ pungkasnya. (tr3/kid/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto